Melihat Kemajemukan Masyarakat Palembang dengan Kue Lapan Jam

Boga Sep 13, 2019

Etnis.id - Ragam kuliner yang ada di Indonesia, tidak lepas dari proses akulturasi dan asimilasi yang terjadi antarmasyarakat. Seperti penganan manis dari Palembang, kue lapan jam.

Folklor (cerita rakyat) yang diinternalisasikan secara lisan maupun tulisan juga turut mengemas keberadaan makanan menjadi lebih bermakna, sehingga layak untuk terus diperkenalkan kepada khalayak luas.

Kue lapan jam itu rasanya legit, teksturnya lembut dan tampilannya sederhana. Soal prolog perkembangan sejarah hingga proses pembuatannya, makanan ini punya cerita yang unik.

Kata lapan sendiri merupakan pemangkasan kata dari kata delapan, yang merujuk kepada durasi proses memasak yakni selama delapan jam. Hal itu ditegasi pula oleh sejarawan kuliner Palembang, RM Ali Hanafiah atau disapa Mang Min.

Katanya kue lapan jam memiliki filosofi delapan bukan hanya persoalan durasi waktu pembuatan, melainkan juga suatu bentuk perwujudan diri manusia ke dalam tiga bentuk yakni proses bekerja, beribadah dan beristirahat.​

Angka delapan juga menyiratkan sesuatu yang illahiah, seperti tradisi di Palembang dalam proses pengantaran jasad manusia menuju liang lahat dilakukan oleh delapan orang: Empat orang di depan juga di belakang. Selain itu, kue lapan jam merupakan simbolisasi dari salah satu penganan lokal yang dikonsumsi oleh para bangsawan Palembang.

Selama delapan jam, kue ini dikukus. Cara itu dapat didefinisikan sebagai proses yang unik, mengingat pembuatannya melibatkan kesediaan manusia sebagai subjek peramu makanan.

Pertama, dalam menyiapkan bahan dasar pembuatan, kue lapan jam tidak terbuat dari tepung. Pembuatannya mengandalkan telur bebek dan gula, namun di era moden, improvisasi bahan dapat ditambahkan dengan susu dan vanili.

Uniknya, bahan baku pembuatan tetap bertahan seperti itu, tanpa mengoplosnya dengan telur ayam yang notabene memiliki harga lebih terjangkau. Telur bebek membuat kue lapan jam tetap diminati sebagai kue “bangsawan” dengan posisi yang prestis karena harga jual yang “tinggi”.

Pemilihan telur bebek yang telah dijalan leluhur, bukan tanpa alasan. Dalam aspek kesehatan, telur bebek memiliki kandungan gizi lebih tinggi dibandingkan telur ayam, baik nutrisi dan protein. Pertimbangan ini menjadi dasar bagi ahli peramu makanan soal bahan baku apa yang cocok bagi penganan untuk kalangan Bangsawan.

Selain itu, dengan menggunakan telur bebek, kualitas kue akan menjadi lebih legit dan tahan lama sehingga dapat menjadi buah tangan. Pada tradisi perkawinan di masyarakat, kue ini juga penting disajikan.

Alasannya, selain melambangkan status kemakmuran seseorang, kue lapan jam mereduksi posisi masyarakat sebagai bagian dari kelompok yang menjunjung adat-istiadat lokal, terutama bagi keluarga yang memiliki trah asli sebagai keturunan bangsawan Palembang. Kue ini dapat menjadi entitas adat yang mempersatukan mereka.

Kedua, jika berhasil melewati delapan jam proses pemasakan yang panjang, para peramu dapat menyajikan kue ini dengan rasa yang manis dan tekstur yang lembut. Semua karena pemilihan bahan-bahan terbaik, yang mengisyaratkan bahwa dalam menjalani kehidupan, akan disajikan bekal untuk menjalani hidup dengan tujuan Agung. Kita diajak berkontemplasi untuk memilih bahan-bahan unggulan.

Adapun proses pengukusan dapat menunjukkan kita, bahwa bara yang menyala adalah keterwakilan dari benturan-benturan kehidupan sebagai medium penempaan diri.

Konon, gula menjadi bahan paling penting karena mampu membuat kue lapan jam dapat disimpan lebih lama. Tidak hanya rasa manis, tetapi ia menjadi sumber kekuatan yang mampu melengkapi adonan.

Ketiga, tidak seperti ensiklopedia pengetahuan kuliner di Jawa dan daerah lain yang
memiliki pencatatan secara subtil. Perkembangan kuliner di Sumatera Selatan lebih banyak diwariskan melalui budaya bertutur, penyebaran secara lisan.

Sehingga, dalam dokumentasi tertulis, belum ada rujukan khusus yang menunjukkan apakah terdapat ritual maupun mantra-mantra perihal proses interaksi relasi sosial-budaya, ataupun produksi wacana sosial yang dilakukan para koki.

Hingga saat ini, kue lapan jam menjadi panganan yang dapat dinikmati oleh semua kalangan karena dikemas dalam bentuk panganan buah tangan yang dijajakan dengan harga terjangkau.

Dalam perayaan hari besar Idul Fitri dan Imlek, kue ini juga banyak diburu oleh pelanggan. Ada proses peleburan budaya yang sudah sedemikian harmonis antara masyarakat lokal dengan masyarakat berlatar belakang China, sebagai konsekuensi positif dari tradisi berdagang di masa lampau.

Ini mewujudkan kemajemukan terutama dalam proses perkembangan kuliner di Sumatera Selatan. Saling melengkapi satu sama lain tanpa perlu mengklaim muasal kepemilikan.

Kini, perlu lebih banyak upaya dan gagasan dari banyak pihak untuk dapat menginternalisasi pengalaman historis di masa lampau dan mencatatkan sejarah perkulineran lokalnya sendiri, agar tidak gampang tergerus zaman.

Editor: Almaliki