Kolak Ayam: Kudapan Khas Masyarakat Gresik

Boga Oct 31, 2019

Etnis.id - Masyarakat Indonesia tentu tidak asing dengan kudapan tradisional bernama “kolak” yang biasanya selalu hadir saat Ramadan. Kudapan ini sering disajikan sebagai menu pembuka atau takjil saat berbuka puasa.

Biasanya, bahan utama untuk membuat kolak adalah pisang, ubi, kacang hijau, kolang-kaling atau nangka. Selain itu, kolak juga memiliki ciri khas warna kuahnya berwarna cokelat dan rasanya manis karena campuran gula Jawa.

Anggapan itu akan berubah ketika kalian berkunjung ke Gresik, tepatnya di Desa Gumeno Kecamatan Manyar. Di sana, masyarakat setempat memiliki tradisi membuat kolak ayam. Kolak ini hanya bisa didapat dan dibuat oleh warga Desa Gumeno setiap malam telulikur (malam ke-23 Ramadan).

Rasanya gurih dan legit. Soal bahan pembuatannya, tidak bisa sembarangan. Semua sudah tertakar. Bahan-bahan itu yakni daging ayam kampung, jintan, santan, daun bawang merah, dan gula jawa. Orang yang memasak pun merupakan orang pilihan. Dari proses persiapan hingga memasak, semuanya harus dilakukan oleh kaum laki-laki. Tidak boleh ada perempuan yang terlibat.

Cara memasak kolak ayam ini terbilang masih memakai cara tradisional dengan menggunakan kuali besar di atas kayu bakar. Saat prosesi ini, kolak dimasak beramai-ramai di area Masjid Jami' Sunan Dalem Desa Gumeno.

Asal mula tradisi kolak ayam

Konon tradisi membuat kolak ayam ini sudah berlangsung lebih dari lima abad. Masyarakat Desa Gumeno percaya bahwa tradisi ini bermula ketika Sunan Dalem, Putra pertama dari Sunan Giri, berdakwah di Desa Gumeno pada tahun 1540 Masehi.

Sunan Dalem kemudian mendirikan sebuah masjid di desa tersebut. Tak berselang lama, setelah membangun masjid, Sunan Dalem jatuh sakit. Penduduk desa sangat sedih dengan berita sakitnya Sunan Dalem. Persistiwa itu kemudian disebut sebagai “Sanggring”.

Sanggring berasal dari kata 'Sang' (raja, pemimpin) dan 'Gering' (sakit). Syahdan, para santri dan warga desa bingung sewaktu mencari obat untuk menyembuhkan Sunan Dalem. Hingga pada tanggal 22 Ramadan 946 Hijriah, melalui mimpi, Sunan Dalem mendapat petunjuk tentang obat dari penyakitnya, yaitu harus memakan sebuah makanan berbahan dasar ayam jago muda sebagai salah satu syarat utama.

Kemudian Sunan Dalem mengutus santri dan warga desa yang berjenis kelamin laki-laki untuk mencari bahan pangan yang dibutuhkannya serta mempersiapkan bumbu-bumbu masakan seperti daun bawang merah, gula jawa, jintan dan santan kelapa.

Dalam membuat kolak ayam, komposisi bumbunya pun harus pas. Untuk setiap kolak ayam disediakan 2 kilogram daun bawang yang aromanya menyengat, 2 kg gula merah dan 1 ons jinten. Jumlah dan kualitas jinten berpengaruh pada rasa dan aroma masakan. Semakin banyak dan bagus kualitas jinten, kolak ayam terasa semakin enak.

Sunan Dalem meminta semua bahan tersebut dimasak di atas kuali dengan menggunakan kayu bakar. Setelah memakan masakan tersebut, Sunan Dalem berangsur-angsur sembuh. Masakan itulah yang kemudian sekarang disebut sebagai kolak ayam yang lama-kelamaan disebut sebagai tradisi “Sanggring”.

Selain kisah di atas, ada juga versi lain mengenai asal mula tradisi pembuatan kolak ayam. Konon, tradisi tersebut dilakukan turun-temurun sejak masa pemerintahan Giri Kedaton. Saat itu, masyarakat di Desa Gumeno terserang wabah penyakit yang tak kunjung sembuh.

Melihat adanya keanehan itu, pemimpin Giri Kedaton memerintahkan membuat kolak ayam dan meminta agar kolak ayam itu dibagikan kepada seluruh masyarakat yang sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah memakan kolak ayam tersebut, konon wabah penyakit yang menyerang masyarakat Desa Gumeno menjadi hilang.

Dari obat hingga warisan budaya

Lewat kisah-kisah di atas, hingga saat ini warga Desa Gumeno percaya bahwa kolak ayam yang mereka buat bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Mereka menganggap kolak tersebut adalah jamu atau ramuan tradisional yang harus diwariskan secara turun-temurun. Olehnya, masyarakat setempat selalu mengadakan tradisi membuat kolak ayam di setiap bulan Ramadan.

Awalnya tradisi ini hanya dilaksanakan oleh warga Desa Gumeno. Mereka memasak bersama-sama dan makan kolak ayam bersama-sama pula di Masjid Jami’ Sunan Dalem. Namun, semakin lama, warga di luar Desa Gumeno mengetahui tradisi tersebut.

Akhirnya, banyak warga yang berbondong-bondong untuk datang menyaksikan proses pembuatan kolak ayam, hingga ikut menyantapnya bersama di masjid saat tiba buka puasa. Adanya kepercayaan bahwa kolak ayam mampu menyembuhkan segala macam penyakit pun semakin membuat banyak warga dari luar kota berdatangan.

Tradisi masak besar kolak ayam ini dijadikan salah satu ikon khas di Kota Gresik. Setiap tahun, kuantitas memasak kolak ayam semakin bertambah. Dalam
setiap penyajian, bisa mencapai 3000 porsi.

Untuk mempersiapkan itu semua, warga sudah menyiapkan segala sesuatunya sejak dua hari sebelum pelaksanaan. Mereka bergotong royong membagi tugas. Ada yang menyembelih ayam jago dan memasak ayamnya hingga lunak. Ada yang menyiapkan bumbu. Ada pula yang bertugas menyuwir daging ayam untuk dipisahkan dari tulang dan kulitnya.

Jika semua bahan sudah siap, maka akan dimasak oleh para laki-laki dewasa pada tanggal 22 Ramadan. Kolak diperkirakan matang setelah Asar atau sekisar pukul 16.00. Kolak ayam ini juga dibagikan secara gratis bagi siapa saja yang datang dan berbuka puasa di Masjid Jami’ Sunan Dalem. Ini merupakan bentuk sedekah yang dilakukan oleh masyarakat Desa Gumeno. Kolak ayam biasanya disantap bersama ketan yang masih hangat.

Akhir kata, kolak ayam atau tradisi Sanggring bukan lagi hanya sekadar sajian kolak yang nikmat. Lebih dari itu, memiliki makna mendalam. Kolak ayam menjadi perekat silaturahmi antarwarga Desa Gumeno dan sekitarnya, juga untuk selalu menghormati peninggalan tradisi Sunan Dalem yang sangat melekat di hati mereka.

Editor: Almaliki

Linda Astri Dwi Wulandari

Mahasiswa S2, Kajian Tradisi Lisan, UI