Sudah Tepatkah Pengajaran Tari untuk Anak, Saat Ini?

Tarian Jan 27, 2020

Etnis.id - Di kalangan masyarakat tertentu, gerak tak ubahnya penanda yang kaya makna. Umumnya, manusia bergerak sebagai simbol. Bahkan sebelum mengenal kata dan bahasa, manusia terlebih dahulu bergerak sebagai instrumen penyampai pesan.

Contohnya, saat anak kecil yang menjulurkan kedua tangannya sebagai penanda ingin digendong. Atau ketika anak menguap disertai usapan mata yang memberikan sinyal bahwa ia sedang mengantuk.

Darinya, diketahui kalau gerak bagi manusia sangatlah krusial. Hal yang tidak dapat diungkap melalui bahasa lisan, malah dapat dipahami melalui gerakan. Pentingnya peran gerak, disadari oleh seluruh lapisan masyarakat. Karenanya, wajar bila anak-anak sejak usia dini sudah dilatih bergerak lewat tari.

Di kota-kota besar pun kecil, para orang tua berbondong-bondong membawa anak mereka ke sanggar atau tempat kursus menari, dengan dalih menikatkan kelunturan, ketahanan, keseimbangan dan kekuatan tubuh anak. Sayangnya tidak sedikit dari mereka yang tidak mengetahui materi serta metode yang tepat untuk diajarkan pada anak.

Belajar menari dengan menirukan

Pembelajaran tari di Indonesia merupakan bagian dari kelanjutan tradisi di masa lampau. Hingga saat ini, masih mudah kita jumpai pengajaran tari yang dilakukan dengan metode tradisional, yaitu dengan melihat, mendengarkan, meniru dan mengulang.

Pembelajaran dengan metode ini seolah memaksa anak untuk menjadi seperti apa yang diinginkan guru, karena pada dasarnya sistem ini menitikberatkan pada proses meniru materi sesuai dengan apa yang dilihat dan didengar. Dalam praktik meniru, anak yang hapal diposisikan di baris bagian depan dan di baris berikutnya barulah diisi oleh anak yang belum hafal.

Menurut Rima Feber dalam penelitiannya bertajuk “Dance And Early Childhood: The Isadora Effect” diketahui bahwa pendidikan yang diajarkan dengan metode meniru, merupakan pembelajaran yang kaku. Anak-anak diproduksi sebagai alat imatitif (2016).

Pada akhirnya, belajar menari yang seharusnya berperan meningkatkan kognitif dan motorik anak, justru berubah menjadi arena melemahkan kreativitas anak. Anak cenderung hanya mengopi materi yang ditransfer oleh guru, tanpa mengembangkannya.

Memang, sistem belajar seperti ini meringankan pekerjaan guru. Selain tidak memakan waktu yang lama, guru juga tidak usah repot mengkoordinir anak untuk berkreasi menciptakan gerak. Namun, bagaimana dengan anak yang memiliki keinginan untuk menambah atau mengurangi gerakan? Apakah itu dianggap menyalahi aturan?

Belajar menari dengan gerak bebas

Sejauh ini banyak guru lebih memilih cara imitatif sebagai metode belajar, karena dirasa lebih praktis. Anak-anak tinggal disuruh mempraktikkan apa yang dilihat lalu menghapalnya.

Menurut penelitian yang dilakukan Rutgers University, pembelajaran tari yang berdampak untuk masa depan anak adalah tari yang dibangun atas kehendak diri secara alami.

Artinya, anak-anak tidak melulu harus terpaku mengikuti konvensi gerak yang sudah ada. Tetapi, justru anak diberi kebebasan membuat komposisi gerak sesuai imajinasi dan kreativitasnya masing-masing.

Secara bebas, anak-anak bisa menampilkan macam-macam gerak sesuai keinginannya, tanpa memikirkan salah atau benar. Metode balajar dengan cara ini memberikan ruang sekaligus kepercayaan kepada anak untuk mengekspresikan fantasinya.

Kreativitas yang muncul pun bisa beragam, mulai dari berlari-lari kecil, melompat ataupun berputar-putar. Menerapkan belajar menari dengan gerak bebas dapat dijadikan sebagai wahana untuk menumbuhkan kesehatan psikologis. Selebihnya, belajar dengan cara ini, mampu mengembangkan potensi emosional, sehingga anak menjadi sadar akan diri mereka dan orang lain.

Gerak bebas sering kali melibatkan anak untuk memperhitungkan waktu, ritme dan tenaga. Hal itu dianggap baik karena menyadarkan mereka akan ruang, kepercayaan diri dan identitas tubuh.

Merefleksikan belajar tari dengan gerak bebas mengingatkan saya pada pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim di Hari Guru 2019. “Ajaklah kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar. Berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas, temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri.”

Pada masa pemerintahannya, Nadiem Makarim memfokuskan pendidikan yang mengarah pada pengembangan bakat dan kepercayaan diri anak. Menurut Nadiem, seorang guru adalah fasilitator dan jembatan dalam menumbuhkan sikap aktif berpikir.

Dalam proses belajar, hendaknya guru mematik diskusi agar anak dapat mengembangkan gagasannya. Sejalan dengan Nadiem, sistem belajar tari melalui gerak bebas dapat menjadi satu solusi untuk merealisasikan pendidikan anak yang lebih baik.

Sebab, setiap anak memiliki daya estetiknya masing-masing dan di sinilah tugas seorang guru tari untuk dapat mewadahi keleluasan ekspresi mereka. Belajar menari dengan sistem yang semestinya, dapat mengembangkan sistem motorik pada masa anak-anak dan berkontribusi pada pertumbuhan kognitif. Hal ini bemanfaat untuk kecerdasan kinestetik mereka.

Editor: Almaliki

Indah Cahyasari

Gemar menulis ihwal seni dan tari