Bambu Gila, Tarian Mistis yang Diberi Mantra

Tarian Mar 14, 2019

Etnis.id - Dalam setiap acara adat, hiburan, maupun budaya, tarian bambu gila akan rutin ditampilkan oleh masyarakat di Provinsi Maluku, Maluku Tengah, dan Maluku Utara (Malut). Tarian ini merupakan warisan turun-temurun masyarakat.

Tarian bambu gila sangat berbeda dengan jenis tarian lainnya di Indonesia. Para pemain tidak harus menggunakan kostum khusus.

Biasanya ada juga pemain yang tidak menggunakakan baju, dan hanya mengenakan celana dan ikat kepala. Namun, dominasi warna yang sering ditunjukkan saat tarian bambu gila adalah warna merah.

Yang paling mendasar dari tarian ini adalah keberadaan pawang dan bambu pilihan yang harus memiliki ruas ganjil. Panjang bambu yang dipilih umumnya sekitar 2-2,5 meter dan diikat kain berwarna merah cerah di setiap ujungnya.

Para pemain yang terlibat juga harus berjumlah ganjil baik 7 atau 9 orang yang mempunyai kekuatan fisik kuat. Sebab, saat sang pawang mulai memantrai bambu, kekuatan ketahanan para pemain akan diuji. Bambu akan bergerak dan seolah meronta mengikuti asap kemenyan dari tempurung yang dipegang oleh sang pawang.

Aroma khas kemenyan dari sang pawang akan semakin menambah kesan mistis tarian ini. Tanpa direkayasa, bambu akan terus meronta dan membuat kewalahan para pemain.

Sambil diiringi alunan musik tradisional Maluku seperti tifa, gong, dan genderang, secara lambat di awal hingga semakin cepat jelang akhir akan membuat tarian ini semakin atraktif.

Mantra Bambu Gila

Dalam jurnal yang ditulis Martia Soamole, Mursalim, dan Alfian Rokhmansyah berjudul: "Analisis Tarian Bambu Gila di Maluku Tengah Ditinjau dari Bentuk dan Fungsi" dijelaskan, saat pawang melakukan ritual banyak media atau bahan-bahan yang digunakan pawang, seperti obor, jahe, rebana (gendang), cincin emas, kain berang (kain merah) dan kemenyan.

Pemuda Memeluk Baramasuen atau Bambu Gila (Foto: Djuli Pamungkas)

Setelah pawang membakar kemenyan banyak asap meliputi ruangan dan terjadi nuansa mistis di sekitar tempat pertunjukan. Dengan munculnya asap, hal itu menandakan bahwa pawang sedang melakukan pembacaan mantra untuk melakukan pemanggilan roh para leluhur atau sekumpulan jin agar datang dalam ritual tersebut, dan masuk ke dalam bambu yang akan digunakan. Bentuk tuturan mantra, dan fungsi dari mantra dalam atraksi bambu gila juga dijelaskan.

Berikut Teks Tuturan Mantra Bambu Gila Dalam Bahasa Indonesia dan Maluku Tengah:

Au upu mateane au wupu, tuhinane
Imo’i lou imo’i laha
Imi apa jin-jin sembilan puluh malaikat
Ale imi jin bantu you
Berkat La Ila Hailala
Berkat Muhammad Razul Allah
Barakat upu acan bisa mustajab
Kalian para leluhur laki-laki dan perempuan
Pergilah kearah laut dan darat
Panggilah jin-jin dan 90 malaikat
Kalian jin marilah bantu saya
Berkat La Ila Hailala
Berkat Muhammad Razul Allah
ute mamanu imi mamanu
ute mamanu imi mamanu
ute mamanu imi mamanu
Bambu gila orang gila
Bambu gila orang gila
Bambu gila orang gila
Ha jim ada
Ha jim ane’e
Barakat upu acan bisa mustajab
Mari masuk kedalam bambu ini
Mari membawa mereka
Barakat penguasa bambu

Mantra yang diucapkan merupakan kalimat pernyataan, dan ditujukan kepada bambu untuk menyatakan kondisi fisik bambu setelah dimasuki sekumpulan jin. Arti dari kalimat pernyataan mantra menggambarkan bahwa setelah jin berada dalam bambu, maka pawang menyatakan bambu tersebut gila, karena bergerak kesana kemari tanpa kendali, layaknya orang yang berjalan tidak tentu dan jelas tujuannya.

Adapun yang memegang bambu juga dinyatakan sebagai orang gila karena mengikuti irama dan gerakan bambu yang tidak beraturan. Serta kalimat berkat penguasa bambu gila, dinyatakan oleh pawang untuk jin
yang telah menguasai bambu. Uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kalimat-kalimat mantra yang diucapkan merupakan kalimat pernyataan.

Fungsi mantra dalam atraksi bambu gila secara khusus bertujuan untuk memanggil roh atau jin baik yang ada di lautan maupun yang ada di daratan dengan tujuan untuk berkumpul dan datang kepada pawang.

Karena setiap manusia jika berhubungan atau berkomunikasi dengan mahluk di luar alam manusia, maka memerlukan sarana pemanggil atau disebut mantra. Tujuan mantra pada umumnya bervariasi tergantung si pembaca mantra. Sedangkan mantra yang dibacakan dalam atraksi bambu gila bertujuan untuk
berkomunikasi dengan arwah para leluhur dan jin.