Makna Filosofi Janur Kuning pada Masyarakat Bali

Kultur Aug 02, 2019
Sebelum janur kuning melengkung tandanya masih ada kesempatan.

Pernah tidak kalian mendengar percakapan seperti itu? Nah, janur melengkung ini sering diartikan jadi sebuah tanda adanya pasangan yang sedang menjalani proses pernikahan.

Janur melekung ini biasanya terpasang di jalan dekat tempat pesta diadakan. Tapi, tahukah kalian kalau di beberapa daerah, janur melengkung ini sebenarnya lebih dari tanda pernikahan saja?

Janur melekung merupakan simbol adat yang masih sering digunakan di beberapa wilayah Indonesia. Pulau Jawa, Bali, Lombok pada waktu-waktu tertentu, masih memakai janur sebagai tanda atau hiasan.

Di Bali, janur melengkung ini biasanya disebut dengan istilah penjor. Bukan semata-mata bukti kalau lagi ada acara pernikahan saja, tapi penjor punya makna-makna yang lain tergantung bentuk dan waktu pemasangannya.

Saat Hari Raya Galungan akan tiba, biasanya jajaran penjor mulai menghiasi jalan-jalan di setiap sudut Pulau Bali. Bagi orang awam, mungkin akan mengira kalau banyak yang akan menikah dalam waktu yang bersamaan, padahal bukan.

Pemasangan penjor ini tak boleh dilakukan sembarangan, yang penting asal bagus nan megah saja, ada berbagai syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi sesuai ajaran dan kepercayaan umat Hindu di sini.

Ketentuan Pembuatan Penjor

Dalam tradisi di Bali, penjor terbagi menjadi dua jenis, yang pertama penjor sakral, digunakan sebagai bagian dari upacara keagamaan.

Kedua, penjor hiasan yang biasanya digunakan dalam acara-acara seni desa untuk menghias dan menyemarakkan suasana. Penjor Galungan itu punya fungsi dan jadi bagian dalam sebuah upacara keagamaan.

Penjor-penjor ini dibuat menggunakan bambu yang tingginya kurang lebih 10 meter dan dihias menggunakan janur muda serta dedaunan lainnya.

Saking tingginya bambu, ujung bagian atas biasanya akan melengkung. Selain janur muda dan dedaunan, penjor ini wajib dilengkapi dengan beberapa unsur alami seperti pala bungkah yang terdiri dari umbi-umbian, pala gantung yang terdiri dari jenis-jenis buah-buahan dan pala wija berupa biji-bijian.

Pada bagian ujung atas yang melengkung digantung sampiyan penjor yang lengkap dengan bunga, porosan dan ornamen lainnya. Di bagian bawah, terdapat seperti rumah kecil tempat menaruh sesaji dan pelengkapnya.

Rumah kecil di bagian bawah penjor itu biasanya disebut sanggah ardha candra yang terbuat dari bambu, berbentuk dasar persegi empat, dan bagian atapnya ditutupi anyaman bambu melengkung yang menyerupai bulan sabit.

Bagian bawah Penjor Galungan atau sanggah ardha candra/ETNIS/Maya Arina

Penjor Galungan biasanya dipasang satu hari sebelum Hari Raya Galungan atau pada saat Penampahan Galungan karena momen itu dipercayai sebagai momen yang tepat “menghias” keburukan agar menjadi kebaikan.

Bambu panjang yang lurus dimaknai sebagai kebaikan manusia dan bagian ujung yang melengkung dianggap sebagai keburukan namun dihias agar menjadi kebaikan. Selain memasang penjor, saat penampahan Galungan, biasanya juga dilakukan pemotongan hewan (nampah) dan dilanjutkan dengan acara makan bersama.

Penjor Galungan dipasang dengan cara menancapkan pada pintu masuk sebelah kanan (dari sisi dalam) rumah, perkantoran ataupun tempat usaha dan sanggahnya atau ujung penjor menghadap ke arah jalan.

Bila rumah menghadap ke selatan, penjor ditancapkan pada sisi barat pekarangan pintu rumah. Untuk pemasangan penjor di tempat usaha, biasanya tidak diwajibkan, tetapi bergantung pada kebijakan pemilik usaha.

Penjor Galungan ini akan dipasang selama satu bulan tujuh hari lamanya. Jajaran penjor yang terpasang rapi ini turut menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Bali karena keindahan dan keunikannya.

Makna dan Filosofi

Bukan sekadar hiasan tanpa arti, Penjor Galungan mengandung makna dalam ornamen dan bahan-bahan penyusunnya. Bambu yang menjulang tinggi menggambarkan sebuah gunung, istana Sang Pencipta.

Penggunaan bambu yang ini juga melambangkan tempat yang suci. Warna terang dari janur dan dedaunan lain menggambarkan kemenangan  dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan).

Seluruh pelengkap yang digunakan dalam membuat penjor berasal dari unsur alam. Hasil bumi yang digunakan ini memberikan makna rasa ungkapan syukur dan terima kasih pada Sang Pencipta atas kemakmuran dan kesejahteraan yang diberikan bagi umat manusia.

Penjor Galungan juga dimaknai sebagai naga, ujung penjor yang melengkung diartikan sebagai ekor naga dan bagian bawah tempat tatakan dan anyaman bambu dimaknai sebagai kepala naga.

Simbol naga ini disebut “Naga Basuki ” sebagai lambing pertiwi dengan segala hasil alam yang memberikan kehidupan dan keselamatan.

Kalau diperhatikan, penjor-penjor Galungan memiliki perbedaan detail antara penjor satu dan lainnya. Hal ini dapat dilakukan mengikuti kemampuan seseorang dalam membuat penjor.

Terpenting dalam pembuatan penjor, alat-alat dan unsur-unsur wajib harus dipenuhi, karena penjor berfungsi sebagai sarana pelengkap yang bernilai sakral.

Penjor dapat dibuat seindah mungkin sesuai dengan kemampuan, situasi, dan kondisi, namun yang tidak bisa ditawar adalah bagian unsur-unsur pelengkapnya.

Editor: Almaliki