Akankah Bonus Demografi Mendukung Seni Tradisi?

Etnomusikologi Oct 28, 2019

Etnis.id - Pada kurun waktu lima sampai sepuluh tahun mendatang, Indonesia akan mendapatkan apa yang disebut dengan ‘bonus demografi’. Dari data yang disebutkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, lonjakan jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) akan lebih besar dibanding penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa. Konteks produktif di sini memang baru menyasar ke penguatan ekonomi Indonesia. Setidaknya diprediksi bisa mencapai posisi keempat di pasar global.

Namun satu hal yang patut disoroti. Dari semakin terbukanya arus informasi, maka bisa dijadikan peluang sebagai upaya untuk mengenalkan keanekaragaman budaya ke mana-mana.

Pemanfaatan internet dan teknologi komunikasi informasi yang sekarang akrab di tangan bahkan anak-anak usia dini, sebaiknya memang diarahkan kepada hal-hal yang sifatnya akan semakin menonjolkan identitas Indonesia melalui produk-produk tradisi(onal)nya.

Apakah yang demikian itu tidak mungkin? Jawaban jelas sangat mungkin sekali. Lonjakan usia produktif di bidang ekonomi, sepertinya harus dibarengi dengan kreativitas yang mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah.

Beberapa waktu lampau kita familiar dengan Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) yang baru saja dilebur menjadi satu dengan Kementerian Pariwisata. Asal tahu saja, kreativitas adalah mata uang universal. Dia bisa dihargai dengan rupiah, poundsterling atau dollar. Semuanya bisa didapatkan dengan mudah.

Yang perlu diingat dari sebuah kreativitas adalah dengan tidak meninggalkan nilai-nilai yang selama ini ada di dalam muatan kesenian tradisional. Tidak hanya sekadar bermain musik, namun juga mampu untuk melembutkan hati, memperkuat tali toleransi dan memperkokoh sikap saling menghargai.

Musik pada akhirnya tidak hanya sekadar menjadi tontonan yang menarik, namun juga mampu memantik kesadaran kolektif akan pentingnya memahami keragaman daripada sibuk mempertentangkannya.

Salah satu contohya bisa kita lihat dari perangkat gamelan. Sejak dari pembuatan, semua memiliki nilai-nilai yang selaras dengan kesadaran kolektif masyarakat Jawa Seperti dalam pembuatan satu gong Ageng (gedhe/besar) dikerjakan tidak hanya oleh satu orang. Melainkan sejak pemilihan bahan, penempaan oleh para pande, hingga pelarasan tonikalnya, diserahkan kepada ahlinya.

Gondang Batak saat ditampilkan dalam acara AMAN Indonesia/Etnis/Billy Chermutto

Belum lagi sebelum semua itu dilaksanakan. Setiap orang harus memantaskan diri melalui laku puasa yang bermacam-macam, sesuai dengan keyakinan masing-masing, agar ketika membuat gong, mereka selalu diberi keselamatan dan hasil yang maksimal. Bahkan ada yang rela untuk berhubungan seksual ketika keesokan harinya harus bekerja membuat gong. Atau sebut saja ritual Slametan Gongso Ageng di sentra pembuatan Gong di Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Gongso diambil dari kata Tigo lan Sedoso (tiga dan sepuluh). Ini merupakan ukuran materi bahan pembuatan gong. Tiga kilo timah dan sepuluh kilo tembaga. Ritual ini melibatkan para pekerja, pembuat, bahkan pembeli gamelan. Tujuannya agar diberi kelancaran selama proses.

Iya, bekerja dengan suhu yang sangat panas sekali dan berhadapan dengan bara api, memiliki risiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi. Jika tidak diimbangi dengan laku spiritual, siapa yang bakal bisa menjamin keselamatan? Siapa yang sudah menyediakan bahan-bahan (logam, tembaga, kayu) jika bukan kemurahan Sang Pencipta?

Sehingga bisa dilihat dalam setiap produk budaya tradisional kita, bahwa kreativitas selalu dibarengi dengen esensi-esensi nilai makna yang jika dibedah dengan seksama, maka semakin meneguhkan bahwa tradisi mengajak kita untuk menebarkan kebenaran, kebaikan dan keindahan.

Dengan pelbagai unsur makhluk yang ada di alam semesta ini. Tidak hanya hubungan antarmanusia, tetapi juga hubungan manusia dengan hewan dan tetumbuhan. Di dalam ke-tradisi-an kita, ada upaya untuk senantiasa menjaga kelestarian dan keseimbangan alam serta mengajak manusia untuk selalu bersyukur atas apa yang diberikan oleh Sang Pencipta.

Tradisi sepertiya tidak akan pernah mati. Meski selalu dibenturkan dengan arus modernitas. Karena tradisi dan modernitas bukan dua hal yang perlu dipertentangkan.

Jangan salah sangka. Jika ada anak kecil lebih bangga ketika mampu memainkan gitar elektrik. Di lain tempat, masih ada festival Dalang Bocah di Solo. Sanggar-sanggar tari tradisional juga masih dipenuhi oleh anak-anak. Karena tradisi itu seperti DNA di dalam tubuh manusia Nusantara.

Jangan terlalu panik, jika bahasa asli (native) yang dimiliki akan luntur karena anak-anak lebih menggemari bahasa asing dan nilai tata krama akan punah. Pada akhirnya seperti sebuah siklus, orang akan butuh identitas dan menunjukkan siapa diri mereka, salah satunya melalui bahasa khas yang mereka miliki.

Saya masih memiliki keyakinan, bahwa tradisi tak sesekarat itu sekarang. Pada masa depan justru tradisi menjadi semacam kunci. Dia bisa membuka pintu ekonomi kreatif, membuka pintu spiritualis, membuka pintu keluasan pengetahuan semacam ilmu pasti fisika, kimia dan biologi.

Bonus demografi akan menjadi aset dan pembuktian, jika kita mau membuka diri atas kesadaran bahwa kita memang dititipi kekayaan yang luar biasa melimpah dan menjadi pelbagai macam produk kesenian ‘tradisi’.

Editor: Almaliki

Didik W. Kurniawan

Etnomusikolog