Strategi Kebudayaan dalam Kata "Ibu" untuk Menjaga Alam Raya

Kultur Nov 09, 2019

Etnis.id - Hal apa yang pertama kali meletup dalam pikiran kalian saat mendengar kata ‘Ibu’? Aku yakin seyakin-yakinnya, bahwa otak kita akan sigap mengais sejumput asosiasi positif yang layak merepresentasikan kata tersebut.

Entah itu kematangan, kedewasaan, stabilitas, keluasan, kearifan, cinta, rindu, atau kenyamanan. Tentu saja hal ini terjadi secara otomatis, karena memang kesadaran terhadap peran vital ibu dalam kehidupan kita memang sudah sebegitu memuncaknya.

Proses kelahiran, pendewasaan, ataupun proses-proses yang lainnya tidak bisa dilepaskan dari peran sosok satu ini. Sehingga ketika kata keramat ini disebut, kita tidak akan secara sembrono memilih kata-kata untuk disejajarkan dengannya. Tentu saja, karena pengalaman personal yang berbeda, aku tidak bisa mendeskripsikan asosiasi yang paling presisi tentang Ibu di sini.

Namun setidak-tidaknya kita tidak akan menolak, bahwa kata ‘Ibu’ membawa semacam kedekatan emosional kepada kita. Hal unik terkait paparan singkat di atas adalah bahwa banyak tradisi lawas, yang entah didorong kesadaran macam apa, dengan sangat hati-hati, mengasosiasikan Bumi dengan kata Ibu.

Dalam tradisi lisan Jawa misalnya, sering kali pada ujub (doa dalam bahasa jawa), terselip frasa ‘Ibu Bumi - Bopo Angkoso’. Bagiku, yang akhir-akhir ini mulai menggandrungi hal-hal klasik, pemilihan label ‘Ibu’ untuk bumi ini adalah sebuah fenomena yang cukup menarik untuk ditulis.

Aku rasa, kata ‘Ibu’ yang melekat pada kata Bumi adalah sebuah strategi psikologis dan kebudayaan yang patut dicermati. Aku yakin siapa pun yang dulu menelurkan frasa ini, adalah seorang yang memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi. Selain karena ketepatan pemilihan kata untuk disandingkan, frasa ini juga sebenarnya bisa dianggap sebagai strategi pembelajaran yang sangat ampuh.

Kita semua tahu bahwa apa saja, baik itu tontonan, buku, obrolan, atau guyonan, yang kita ‘konsumsi’ secara terus-menerus, perlahan bakal membentuk pola pikir kita dalam memandang sesuatu. Sehingga penggunaan frasa ‘Ibu Bumi’ yang disembunyikan dalam ujub, yang notabene adalah sesuatu yang sakral dan dituturkan serta diturunkan dari generasi ke generasi ini, dapat meresap hingga ke level kesadaran yang paling dalam.

Hal ini pada akhirnya berhasil membentuk pola pikir yang sangat indah, sewaktu mereka, orang-orang yang kita anggap tradisional itu, menghormati bumi bak menghormati ibu mereka sendiri. Mereka tidak berani bertindak macam-macam, atau sewenang-wenang terhadap bumi ini.

Mereka menjaga tindak tanduk mereka terhadap ‘Ibu’. Merasa pekewuh, hormat dan bahkan memberi ‘sedekah’ sebagai simbol ungkapan terima kasih mereka kepada ‘sang ibu’ karena telah memberikan pemenuhan terhadap kebutuhan mereka.

Dan dengan proses yang sudah berjalan bertahun-tahun ini, bangsa kita telah menjelma menjadi sebuah bangsa dengan tingkat rasa sukur yang sangat tinggi, yang mau memberi sedekah, tidak hanya pada sesama manusia saja namun juga Bumi yang telah dia angkat menjadi ‘Ibu’ mereka.

Satu cerita unik yang kebetulan sempat aku baca dalam buku Merayakan Ibu Bangsa karya Ratih dkk yang diterbitkan pada 2016, yang masih relevan dengan rasa hormat masyarakat tradisional terhadap ‘Ibu’ ini, adalah tentang perjuangan orang-orang Mollo, di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Dikisahkan bahwa sembilan belas tahun yang lalu, Aleta Baun, seorang aktivis lingkungan perempuan di sana, masuk dalam DPO kepolisian Timor Tengah Selatan dan menjadi musuh Bupati setempat karena sikapnya yang ‘keras kepala’ dalam menolak berdirinya tambang di tanah leluhurnya. Ia dianggap menjadi dalang dalam aksi protes para perempuan Mollo yang menduduki tambang marmer dengan menenun terus-menerus selama dua bulan!

Saat perjuangan tersebut dimulai, Aleta adalah perempuan Mollo, anak seorang amaf, istri seorang guru dan ibu dari dua orang anak. Saat itu dia harus masuk kampung untuk bertemu rakyat pada saat petang dan harus sudah lenyap menjelang matahari terbangun. Ia bersama rakyat Mollo menghadapi intimidasi dan kekerasan oleh preman bayaran perusahaan.

Perempuan itu pada akhirnya harus mengungsi beberapa bulan, membawa bayinya yang berusia dua bulan, keluar-masuk kampung serta bersembunyi di hutan. Saat ditanya perihal alasannya dan juga orang Mollo mau berjuang sebegitu hebatnya dalam memelihara alam, dia mengungkapkan bahwa bagi orang Mollo, alam bagaikan tubuh manusia.

Mereka percaya fatu, nasi, noel, afu, amsan a’fatif neu monit mansion. Batu sebagai tulang, tanah sebagai daging, air sebagai darah, dan hutan sebagai kulit, paru-paru dan rambut. Sehingga apabila alam rusak, itu berarti bahwa mereka merusak diri mereka sendiri.

Jika hutan yang diibaratkan sebagai kulit, rambut dan paru-paru rusak, maka tanah akan menjadi miskin - tidak subur. Bila batu, yang bersinonim dengan kerangka manusia, yang memberikan kekuatan dan bentuk itu hilang, maka saat hujan tiba, yang mereka injak hanyalah rawa-rawa.

Lebih jauh lagi, saat pertanyaan digeser menjadi mengapa kaum perempuan yang paling menentang perusakan alam, dia menjawab bahwa alam bagaikan tubuh perempuan yang menyediakan segalanya bagi manusia!

Aku rasa kita semua sepakat bahwa alam adalah bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari manusia. Bahkan manusia itu sendiri adalah bagian dari alam. Namun sayangnya, dengan berkembangnya pola pikir dan kemajuan ilmu dan teknologi, manusia seakan lupa dengan ‘ibu’ yang sudah sangat tua ini.

Kita seolah menarik diri dan mengambil jarak dari alam. Kita ibarat anak yang ingin lepas dari kungkungan. Lalu dengan landasan ilmiah, dengan pengetahuan tentang ekologi, ekosistem, oksigen, fotosintesis dan pengetahuan mutakhir lainnya yang seharusnya bisa mengantarkan kita kepada penghormatan kepada alam, kita malah bertindak sebaliknya.

Kita terlalu sewenang-wenang dengan alam, mengeksploitasinya dengan membabi buta, mengisap isi perutnya tanpa aturan, menggunduli rambutnya dengan liar dan melukai kehormatannya!

Mungkin sedikit berlebihan, namun aku hanya khawatir saja, bahwa suatu saat ‘Ibu’ yang sudah tidak tahan dengan kelakuan anaknya ini akan marah. Dan melakukan seperti yang dongeng-dongeng tua itu ceritakan. Bahwa ibu, dengan segala macam kelemah-lembutannya, mendadak murka dan mengubah anaknya yang kurang ajar menjadi seonggok batu yang menangis.

Dan tentu saja kita tidak berharap, bahwa ‘ibu bumi’ kita tiba-tiba jengah dengan kelakuan kita dan tahu-tahu mogok berotasi barang sehari untuk memberi pelajaran pada anaknya, kan?

**

Sebagai penutup tulisan ini, aku ingin berbagi satu cerita yang bagiku menggelikan, tapi juga mencubit kesadaran. Dalam sebuah program TV swasta yang menyajikan wawancara dengan tokoh-tokoh inspiratif, ada cerita yang menyentil kita semua.

Kebetulan saat itu narasumber program tersebut adalah wanita pendidik Suku Anak Dalam, yang telah mendedikasikan hidupnya untuk memperkenalkan ‘sekolah’ kepada suku Anak Dalam.

Dia mengisahkan pengalamannya saat membawa anak-anak Suku Anak Dalam
keluar hutan untuk melihat kota-melihat kehidupan sebenarnya. Dia bercerita bahwa saat anak-anak Suku Anak Dalam tersebut melihat manusia membuang sampah di sungai-sungai, seketika itu pula salah seorang dari mereka dengan polosnya bertanya, “Bu Guru, apakah mereka tidak sekolah?”

Editor: Almaliki

Luqman Hakim

Mahasiswa Pascasarjana, Kajian Tradisi Lisan, Universitas Indonesia