Ritual Memanggil Hujan di Klaten

Ritual Nov 08, 2019

Etnis.id - Umbul merupakan sebuah sumber mata air yang muncul dari permukaan tanah. Umbul biasanya muncul secara alami dan airnya pun sangat jernih. Di Klaten sangat banyak terdapat umbul seperti Umbul Brondong, Umbul Sigedang, Umbul Brintik, Umbul Pluneng dan lain sebagainya.

Selain umbul, di Klaten juga banyak terdapat sumber mata air di tengah sawah yang akrab dipanggil belik. Beberapa belik yang terdapat di Klaten adalah Belik Mbah Manten di Tegal Mulyo, Belik Pandan Sari di Desa Pandanan, Belik Mbah Tirto, Belik Tingen dan lain sebagainya.

Umbul dan belik ini, oleh masyarakat Klaten biasanya digunakan untuk mengairi sawah, tanaman dan beberapa kebutuhan sehari-sehari seperti memasak, mencuci dan mandi.

Saat ini, kemarau panjang telah melanda di beberapa daerah, termasuk di Klaten. Kekeringan pun menjadi teman hidup di beberapa daerah hingga terjadi kekurangan air untuk sawah dan kebutuhan sehari-hari. PDAM pun juga tak bisa mencukupi suplai air untuk masyarakat. Hujan tak kunjung turun membasahi ladang, hingga tanah pun kering dan retak-retak. Semua masyarakat sangat menunggu datangnya kenikmatan air hujan.

Secara khusus, sebenarnya Kabupaten Klaten dikenal sebagai “Kota Seribu Umbul”. Bahkan muncul anggapan oleh para wisatawan, bahwa jika berjalan-jalan ke kota Klaten, kurang lengkap rasanya jika belum ciblon (berenang) di umbul-umbul yang ada di Klaten.

Tetapi kenyataannya apa yang terjadi saat ini sangat bertolak belakang dengan julukan yang disematkan kepada kota Klaten. Begitulah, nyatanya banyak sawah yang kekeringan. Meski daerah ini banyak bermunculan mata air, tapi faktanya ratusan hektare tanaman padi di Klaten gagal panen.

Desa Burikan, Kecamatan Cawas, Klaten menjadi daerah yang paling parah mengalami hal itu. Menurut survei pemerintah setempat, tercatat seluas 75 hektare tanaman padi di desa Burikan mengalami gagal panen. Betapa mirisnya.

Gagal panen disebabkan bukan karena serangan hama atau yang lainnya, tapi justru karena kurangnya pasokan air untuk mengairi sawah. Kemudian yang perlu menjadi renungan adalah, ada apa sebenarnya dengan tata kelola pengairan di Klaten?

Secara kultur dan pemaknaan kehidupan, adakah perilaku yang menyimpang dari manusia terhadap entitas air dan sumber air yang terdapat di Klaten? Atau mungkinkah terjadi keserakahan dan kerakusan manusia terhadap air dan alam lingkungannya yang menjadi akar penyebab semua ini?

Komunitas Gora Swara Nusantara adalah salah satu komunitas seni di Klaten yang ikut prihatin dengan terjadinya fenomena ini. Mereka pun membuka ruang diskusi melalui seni pertunjukan untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Semua elemen masyarakat dilibatkan dalam acara ini. Mulai dari pejabat kabupaten, kecamatan, kelurahan, hingga warga sekitar.

Teatrikal Ditengah Kumpulan Air/Etnis/Mukhlis

Apabila terjadi kesalahan dalam ranah irigasi, tentu pemerintah harus bekerja sama dengan warga untuk mencari solusinya. Apabila terjadi penyimpangan dari perilaku warga terhadap sumber mata air, diharapkan masyarakat tersebut sadar dan bijaksana memanfaatkan sumber mata air. Acara itu terbingkai dengan tema “Srawung Sedulur Banyu”.

Dalam acara ini, selain terjadi dialog dari semua lapisan masyarakat, mereka juga mengadakan prosesi ritual dan doa memohon hujan kepada Tuhan yang maha Esa. Sebelum prosesi ritual dilakukan, terlebih dahulu masyarakat mengumpulkan air dari berbagai sumber mata air yaitu umbul dan belik yang ada di Klaten yang ditempatkan di sebuah Kendi.

Air-air tersebut berasal dari sumber mata air di Krangkungan, Belik Mbah Manten di Tegal Mulyo, Belik Pandan Sari di Pandanan, sumber mata air Trunuh, sumber mata air Sabiki, Umbul Brondong, Umbul Sigedang, sumber mata air Prambanan, Sendang Tirto Wiyono, Umbul Brintik, Umbul Pluneng, Sumur Ponpes Al-Mansyur, Sendang Ciblon di Sekaran, Sendang Sumur Gemuling, Belik Mbah Tirto, Belik Tingen, Sendang Sumber Gede di Wadung Getas, Sendang Bentangan, Sumur Lare Pundung, Sendang Sri Kruwet di Pakis dan masih ada beberapa air dari sumber mata air yang tidak disebutkan namanya.

Setelah semua air dikumpulkan, kemudian dipanjatkan doa-doa yang dipimpin oleh tetua Burikan. Air yang di dalam kendi setelah didoakan kemudian diarak dari lapangan menuju ke tengah sawah yang kekeringan. Di tengah sawah, sudah disiapkan lubang seperti kolam yang dilapisi plastik supaya air tidak langsung meresap ke tanah.

Sesampainya di tengah sawah, satu demi satu air yang ada di dalam kendi dituangkan di lubang yang sudah tersedia. Kolam pun penuh berisi air dari bermacam sumber. Di tengah kolam yang terisi air itu, ditampilkan sebuah pertunjukan teaterikal menyuarakan kesedihan dan keprihatinan atas apa yang dialami warga sekitar.

Pembakaran Ogoh-ogoh

Dalam teaterikal itu, dimohonkan pula agar hujan turun. Teaterikal itu dimulai dari sejak air dituangkan ke dalam kolam, hingga puncak acara selesai yang ditandai pembakaran ogoh-ogoh. Selain teaterikal, ditampilkan pula tari persembahan oleh tujuh orang penari wanita. Wanita-wanita itu mengenakan jarik, kemben dan sampur yang berbeda warna.

Di barisan paling belakang arak-arakan kendi yang berisi air, terdapat ogoh-ogoh yang juga diarak. Ogoh-ogoh dalam budaya Bali adalah sebuah patung atau boneka yang berukuran besar yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala.

Ogoh-ogoh Berbentuk Seperti Galon/Etnis/Mukhlis
Ogoh-ogoh Berbentuk Seperti Galon/Etnis/Mukhlis

Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Membuat ogoh-ogoh, mengaraknya dan terakhir membakarnya, adalah wujud kesadaran manusia atas kekuatan alam semesta yang harus diakui keberadaannya, dihormati, dilindungi dan dijaga kelestariannya.

Hal ini juga dilakukan oleh warga masyarakat Burikan dan sekitarnya.
Dalam perkembangannya, ogoh-ogoh kemudian menjelma menjadi berbagai
bentuk boneka seperti boneka berwujud naga, gajah, bahkan menyerupai wajah tokoh-tokoh terkenal dunia hingga wajah penjahat.

Dalam ritus meminta air seperti di atas, ogoh-ogoh diarak dari lapangan menuju ke tengah sawah mengikuti barisan kumpulan air tadi. Perjalanan ogoh-ogoh yang dibuat mirip galon itu, diiringi dengan musik Baleganjur yang dimainkan oleh komunitas Raga Bali dari Surakarta hingga akhir acara, sampai ogoh-ogoh dibakar.

Jika ditanya mengapa mirip galon, maksudnya galon adalah tempat air. Ketika ogoh-ogoh ini dibakar, masyarakat secara tidak langsung berharap segera turun hujan di Desa Burikan dan membasahi ladang mereka supaya bisa bercocok tanam kembali. Selain itu, pembakaran ogoh-ogoh juga merupakan wujud penghargaan masyarakat sekitar terhadap alam semesta.

Editor: Almaliki

Mukhlis Anton Nugroho

Etnomusikolog