Ngopi dan Nyethe, Cara Orang Tulungagung Menikmati Hidup

Kultur Aug 30, 2019

Etnis.id - Masyarakat Jawa itu ikatan komunalnya kuat. Bisa dilihat dari jargon mangan ora mangan seng penting kumpul yang bermakna, biar tidak makan asal bersama. Kalimat ini bisa dibuktikan lewat budaya ngopi.

Ngopi bukan sekadar menikmati secangkir kopi hangat di atas meja. Ngopi juga bermakna kebersamaan, kekeluargaan, kehangatan dan juga ajang bertukar pikiran. Makanya orang Jawa juga memaknai ngopi sebagai aktivitas ngolah pikiran (olah pikir).

Ngopi adalah sarana perekat sosial yang cukup efektif dalam segala lini sosial. Seperti di Tulungagung. Kota yang terletak di pesisir Samudera Hindia, yang berpenduduk sekitar 1.026.101 jiwa ini, punya tradisi ngopi.

Ngopi dan Tulungagung seolah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Ngopi telah menjadi gaya hidup di sana. Tak heran bahwa jumlah warung kopi di kota asal kesenian Reyog Gendang ini menjamur.

Dari data Paguyuban Warung dan Hiburan se-Tulungagung, pada tahun 2012 saja, jumlah warung kopi di 19 kecamatan di Tulungagung, sudah mencapai 1200 warkop. Tentu saja angka ini terus merangkak naik.

Di Tulungagung ada banyak jenis warung kopi, mulai dari warung kopi sederhana, yang hanya menggunakan tikar sebagai alas duduknya. Kopinya dibanderol dengan harga Rp2000-an per cangkir. Ada juga warung kopi yang harganya seeksklusif daftar menunya. Semua ada dan bisa menjadi pilihan bagi sesiapa yang kebetulan bertandang ke Kota Marmer ini.

Menyesap Kopi Ijo

Berbincang soal warung kopi, ada beberapa warkop legendaris yang pasti dikenal oleh masyarakat Tulungagung. Salah satunya  warkop legendaris di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Tulungagung. Namanya Warkop Waris.

Warkop yang sudah puluhan tahun berdiri ini tidak pernah sepi dari pengunjung, meski tampilan dari warkop ini sangat sederhana dan tidak elok dipajang fotonya di Instagram.

Di Warkop Waris, hanya tersedia meja dan kursi panjang untuk tempat duduk para pengunjungnya. Dengan membayar Rp1500 untuk secangkir kopi, pengunjung bisa
menikmati kopi Ijo khas Tulungagung.

Kopi Ijo teksturnya sangat lembut serta memiliki aroma dan rasa yang khas. Kopi ini begitu terkenal, apalagi setelah Presiden Jokowi pernah berkunjung ke satu angkringan dan mencoba kopi Ijo Tulungagung pada Januari 2019 yang lalu.

Walaupun kata Ijo bermakna hijau, namun kopi Ijo berbeda dari kopi hijau (green coffee) yang jamak kita kenal sekarang, yang berasal dari biji kopi mentah yang belum disangrai dan berwarna hijau kering.

Kopi Ijo adalah kopi bubuk yang sudah disangrai, yang bila diseduh berwarna hijau kehitam-hitaman. Hijaunya bukan hijau buatan dari pewarna kimia, melainkan dihasilkan dari proses pengolahan kopi itu sendiri.

Pengolahan kopi Ijo ini spesial pada saat memasuki proses sangrai. Proses sangrai harus dilakukan dengan menggunakan kayu bakar pilihan di atas wajan dari tanah liat. Proses ini dilakukan hingga biji kopi benar-benar kering dan matang merata. Selama disangrai, nyala api harus stabil. Lalu biji kopi yang sudah matang kering baru digiling dengan mesin.

Walau beberapa orang meyakini bahwa warna hijau dan rasa kopi yang khas muncul dari campuran kacang hijau, namun resep asli kopi Ijo Tulungagung masih tetap menjadi rahasia keluarga Waris, pencipta kopi tersebut.

Awalnya, Waris memproduksi kopi Ijo hanya untuk kebutuhan warungnya. Namun karena animo masyarakat yang semakin tinggi, maka saat ini bubuk kopi Waris sudah dikemas dan dipasarkan ke pelbagai kota di Indonesia bahkan diekspor ke luar negeri.

Ngopi dan Nyethe

Kopi Ijo di Warkop Waris hanya disajikan dengan cara diseduh dengan air panas. Tidak ada proses modern a la kafe yang njlimet. Hanya ada dua varian kopi, yakni kopi biasa dan kopi susu.

Kopi yang masih panas biasanya dituang di lepek, piring kecil sebagai alas cangkir dan diseruput hingga menyisakan ampas kopinya saja. Inilah yang unik dari aktifitas ngopi di Tulungagung.

Bila biasanya ngopi berakhir saat cangkir kopi sudah kosong, namun bagi pemuda di Tulungagung, habisnya kopi menjadi budaya baru lagi yaitu nyethe. Nyethe berasal dari kata cethe yaitu ampas kopi. Sedangkan nyethe bermakna aktifitas pengolesan ampas kopi pada batang rokok.

Nyethe bukan sekedar asal oles. Ia membutuhkan ketelatenan, keratifitas dan nilai seni yang tinggi. Bisa dilihat dari motif-motif cethe yang beragam mulai dari sulur, tribal, tulisan hingga tokoh pewayangan.

Untuk membuat ampas kopi menempel sempurna di permukaan rokok, dibutuhkan susu krim sebagai campuran. Bubuk kopi yang dipakai untuk cethe adalah bubuk kopi yang sangat halus dan salah satu pilihan yang jamak digunakan adalah bubuk kopi Ijo Waris.

Proses nyethe diawali dengan pengeringan ampas kopi menggunakan tisu. Kemudian setelah kering, ampas kopi dicampur dengan susu krim agar daya rekatnya semakin kuat. Untuk pengganti kuas, digunakan tusuk gigi, silet hingga jarum jahit guna menghasilkan detail gambar yang sempurna.

Nyethe telah menjadi Ikon Tulungagung. Bahkan budaya ini kerap dilombakan di Tulungagung oleh pelbagai pihak. Peminatnya pun tidak terbatas pada kaum Adam, kaum Hawa juga berpartisipasi. Hal ini karena nyethe lebih mengedepankan sisi kreatifitas dan seninya.

Kebiasaan nyethe ini bila dirunut, bisa jadi berakar dari budaya agraris yang digeluti oleh sebagian besar masyarakat Tulungagung. Konon, selepas kerja di sawah, banyak petani yang melepas lelah sembari bercengkrama di warung kopi.

Di sinilah kebiasaan nyethe itu tumbuh. Sembari berbincang, para petani menikmati kopi dan rokok. Saat kopi mereka habis, mereka mengolesi rokok mereka dengan ampas kopi.

Menurut sejarawan JJ Rizal, nyethe merupakan refleksi manusia Indonesia sebagai Homo Ludens atau makhluk yang suka bermain. Selain itu, nyethe juga bisa dikaitkan dengan tradisi batik atau ‘ngerawit’, sebutan untuk motif batik yang sulit, detail dan penuh seperti helaian rambut.

Terlepas dari sumber sejarahnya yang masih sangat cair, budaya ngopi dan nyethe adalah salah satu khazanah budaya bangsa Indonesia asal Tulungagung yang cukup menarik.

Selain seni dan keterampilan menggambar, keduanya merupakan gambaran dari sikap inklusif, kedekatan sosial serta kuatnya sifat komunal. Jadi, kapan kita ngopi bersama, dulur?

Editor: Almaliki

Luqman Hakim

Mahasiswa Pascasarjana, Kajian Tradisi Lisan, Universitas Indonesia