Menjauhkan Stigma "Si Pemburu Kepala" dari Suku Dayak

Kultur Mar 06, 2020

Etnis.id - Orang Jawa mengenal ‘Satria Piningit’ lewat ramalan Jayabaya. Sosok ‘Ratu Adil’ yang digadang-gadang kemunculannya di penghujung derita rakyat. Sementara di belantara Kalimantan, tokoh mitologi Panglima Burung lahir di puncak kronik perang antarsuku. Citranya tak hanya dapat dikenali melalui fenomena ketokohan semata, melainkan lewat metafora kesatria pada tarian perang.

Festival Budaya Isen Mulang dan Festival Budaya Dayak Borneo yang digelar setiap tahun, adalah dua perhelatan yang menampilkan kharisma sang Panglima: entitas gaib dari pedalaman Kalimantan yang lazim dikiaskan lewat berbagai unsur kesenian daerah, mulai dari hiasan kepala, kostum, hingga ragam seni pertunjukan.

Meski begitu, kemeriahan Isen Mulang ternyata tak sepenuhnya mampu menyembunyikan ketimpangan antara daya pikat pariwisata dengan realita kerusakan hutan di Kalimantan.

Aktivitas pembalakan liar, pembangunan infrastruktur, serta praktik perdagangan satwa ilegal—mengancam keberlanjutan seri organisme serta rantai makanan di rimba Borneo, termasuk habitat burung Enggang yang dianggap sakral oleh Suku Dayak.

Saya berkesempatan menemui Marini, seorang seniman asal Palangkaraya yang bertutur soal keberadaan fauna Enggang. “Sanggar kami masih menggunakan inventaris lama. Tapi untuk hiasan kepala, kami sudah mulai mencampur bulu burung Merak jenis Haruei dengan rotan.”

“Suku Dayak percaya bahwa Tingang (Enggang) adalah jelmaan Panglima Burung,” lanjutnya saat ditemui di ruang latihan Kahanjak Huang. Sanggar yang ia dirikan sejak 11 tahun silam.

Ilustrasi Panglima Burung/Herkules Ginda (Kahanjak Huang)/Etnis

Sebagai pemegang tampuk kehormatan, Panglima Burung senantiasa mengupayakan jalan damai lewat kemampuannya mengatasi berbagai pertikaian di tanah Dayak. Termasuk pada tragedi Sampit tahun 2001. Kendati sempat diwarnai pertumpahan darah, akhirnya, konflik yang terjadi Ibukota Kotawaringin Timur itu berhasil diredakan.

Masa sebelum itu, tepatnya pada tahun 1882, penjelajah Kalimantan asal Norwegia, Carl Alfred Bock, disebut-sebut sebagai pencetus stigma perburuan kepala, lewat karyanya yang berjudul “The Head Hunters of Borneo”.

Maklumat yang ia siarkan dalam buku itu, membuat khalayak terlupa akan sejarah panjang yang dialami oleh Suku Dayak. Padahal, sebagaimana etnis-etnis lain di Nusantara, Suku Dayak juga mewarisi kebijaksanaan hidup para leluhurnya, yang tentu saja tak melulu soal pertumpahan darah.

Ngayau

Praktik perburuan kepala atau Ngayau, bertujuan untuk membalaskan dendam sekaligus mengakhiri masa perkabungan atas tewasnya prajurit di medan perang. Ritus purba ini sebenarnya sudah lama digantikan oleh harmoni kehidupan multietnis, seiring datangnya migran dari Jawa dan Madura pada rentang tahun 1969-1998 (periode Pelita pada masa kepemimpinan Soeharto).

Pertemuan arus budaya antara pribumi dan pendatang, semakin tak terrelakkan saat itu. Hasilnya, terbentuk pola kemasyarakatan yang unik di Palangkaraya. Meski perselisihan sudah jarang terjadi, agaknya ritual perburuan kepala sudah kadung terpatri dalam ingatan kolektif masyarakat—membuat riwayat Ngayau sesekali masih terangkat ke permukaan.

Penari Sanggar Kahanjak Huang/Herkules Ginda/Etnis
Penari Sanggar Kahanjak Huang/Herkules Ginda/Etnis

Leluhur Dayak dan Huma Betang

Pakar filsafat dan antropolog Mikhail Coomans dalam “Manusia Daya: Dulu, Sekarang dan Masa Depan (1987)" memperkirakan bahwa nenek moyang Suku Dayak Kalimantan Tengah berasal dari Provinsi Yunnan, Tiongkok, yang bermigrasi melalui perairan Indo-China, menyusuri Selat Karimata, hingga akhirnya memasuki wilayah Kalimantan Tengah-Selatan pada 3000-1500 sebelum Masehi.

Kitab Hikayat Banjar juga mencatat hal serupa, bahwa sejarah kedatangan bangsa Tionghoa ke pesisir Kalimantan Selatan, dilatari oleh konflik yang terjadi di penghujung masa Dinasti Ming pada abad ke-14.

Trauma yang dialami di negeri Tiongkok, membuat Suku Dayak yang diduga berasal dari bangsa Tionghoa, dikenal sebagai etnis yang memperjuangkan teritorinya dengan cara berperang. Guna melindungi anggotanya dari dampak peperangan, seorang Pambakas Lewu atau pemimpin koloni Suku Dayak wajib melengkapi Huma Betang dengan sistem keamanan yang memadai.

Huma Betang/Herkules Ginda/Etnis

Yulianto Sumalyo, seorang Guru Besar Teknik Arsitektur dalam bukunya yang berjudul “Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia”, mengemukakan hasil studinya tentang desain vernakular pada rumah-rumah tradisional. Ia mengidentifikasi Huma Betang sebagai sesuatu yang asli, etnik, rakyat, serta memuat unsur-unsur budaya.

Berangkat dari kecerdasan spasial nenek moyang Suku Dayak ihwal pemanfaatan sumber daya alam, maka dirancanglah tangga sebagai akses menuju pintu masuk Huma Betang dengan mekanisme bongkar-pasang (knock-down)—yang pada malam hari, tangga itu diletakkan di dalam ruangan, guna melindungi penghuni Huma Betang dari ancaman para pemburu kepala.

Berbahan dasar kayu Ulin yang tak mudah digerogoti rayap, Huma Betang didirikan setinggi 1,5 hingga 2 meter dari permukaan tanah. Selain berfungsi sebagai tempat berlindung, ketahanan materialnya paling sesuai digunakan di kawasan bantaran sungai yang kerap digenangi banjir. Konsep rumah panggung pada Huma Betang juga dirancang untuk menghindari penghuninya dari serangan binatang buas.

Nadya memegang mandau di Huma Betang/Herkules Ginda/Etnis

Identitas kedaerahan Suku Dayak juga mengejawantah lewat penerapan asas egalitarianisme. Dilansir dari Wikipedia, prinsip ini pada hakikatnya menganggap bahwa semua manusia adalah sama dalam status nilai atau moral secara fundamental.

Pada komunitas Dayak, kekuatannya terletak pada fungsi Huma Betang sebagai ruang privat, sekaligus menjadi tempat untuk menjalankan praksis kehidupan sosial sebagaimana yang terjadi di ruang publik.

Ikatan genealogis maupun teritorial, membuat penghuni Huma Betang saling mengikatkan diri satu sama lain. Sejalan dengan pendapat antropolog Koentjaraningrat tentang tujuh unsur kebudayaan (universalitas budaya) yang melekat pada Huma Betang, yaitu:

  1. Sistem religi yang terdiri dari sistem kepercayaan, sistem nilai dan pandangan hidup, komunikasi keagamaan, upacara keagamaan.
  2. Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial terdiri dari kekerabatan, asosiasi dan perkumpulan, sistem kenegaraan, sistem kesatuan hidup, perkumpulan.
  3. Sistem pengetahuan terdiri dari flora dan fauna, waktu, ruang dan bilangan, tubuh manusia dan perilaku antarsesama manusia.
  4. Bahasa terdiri dari alat untuk berkomunikasi berbentuk lisan dan tulisan.
  5. Kesenian yang terdiri dari seni patung/pahat, relief, lukis dan gambar, rias, vokal, musik, bangunan, kesusastraan, drama.
  6. Sistem mata pencaharian hidup atau sistem ekonomi terdiri dari kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan, bercocok tanam, peternakan, perikanan, perdagangan.
  7. Sistem peralatan hidup atau teknologi terdiri dari sistem produksi, distribusi, transportasi, peralatan komunikasi, peralatan konsumsi dalam bentuk wadah, pakaian dan perhiasan, tempat berlindung perumahan, dan senjata.

Tumbang Anoi

Dua belas tahun pasca tersiarnya kabar perburuan kepala, ajakan untuk mengakhiri peperangan antarsuku datang dari seorang Panglima Damang Batu yang bermukin di Desa Tumbang Anoi.

Melalui sambungan teleportasi, utusan-utusan sub-suku Dayak yang tersebar di seluruh penjuru Borneo (hingga ke perbatasan Sabah dan Sarawak) sepakat untuk menggelar pertemuan di kediaman sang penggagas.

Cara kerja teleportasi yang sering kita dapati pada karya-karya fiksi ilmiah ini, diduga kuat sebagai media komunikasi leluhur Suku Dayak pada masa itu.

Hanya saja, keterbatasan nalar manusia modern dalam memahami ilmu kebatinan—membuat kesaktian orang-orang terdahulu seringkali ditahbiskan sebagai fenomena takhayul semata.

Peristiwa bersejarah itu disebut ‘Pertemuan Tumbang Anoi’. Dilaksanakan pada tahun 1894 dengan beberapa agenda permufakatan, di antaranya: berakhirnya tradisi kayau-mangayau serta perbudakan; terpantiknya sumbu perdamaian; serta penyeragaman kultur Dayak di seantero Pulau Kalimantan.

Nadya di Festival Budaya Dayak Borneo 2015/Herkules Ginda/Etnis

Pada akhir perjumpaan saya dengan Marini, ia menutup kalimatnya dengan sejumput harapan, “Semoga kami terus bertumbuh dan terus dapat melestarikan budaya Dayak Ngaju lewat kegiatan sanggar,” pungkasnya.

Tabe salamat lingu nalatai, salam sujud karendem malempang (selamat bertemu semoga dalam keadaan bahagia).”

Saya pun akhirnya berpamitan sembari mendaras sepenggal kalimat berbahasa Ngaju yang memuat doa keselamatan. Sampai di sini, tak adil rasanya jika kita terus-menerus mendakwa Suku Dayak dengan tuduhan praktik ilmu hitam. Sebab warisan budaya leluhur, di mana pun itu, selalu menjelma kekuatan magis tersendiri. Saya menyebutnya, semesta arkhaik yang menghanyutkan.


Catatan: "Artikel disarikan dari hasil pengamatan serta wawancara penulis dengan pegiat seni di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada tahun 2015."

Editor: Almaliki

Nadya Gadzali

Tergabung dalam team Ekspedisi Papua Tv7 pada tahun 2006, Nadya semakin menaruh perhatian pada ragam kultur di Nusantara.