Etnis.id - Royong merupakan salah satu sastra lisan masyarakat Makassar yang dilantunkan atau dinyanyikan oleh orang tua, umumnya perempuan paruh baya. Tradisi ini muncul sebelum agama Islam masuk di Makassar.

Menurut Matthes, royong adalah sejenis nyanyian untuk anak-anak kecil (bayi) yang masih berumur 40 hari setelah kelahirannya dan dilantunkan tanpa diiringi musik, jika bayi hendak ditidurkan atau sedang rewel.

Umumnya, royong dilakukan dalam ritus upacara adat. Misal pada upacara Accera’ Kalompoang (pencucian benda-benda pusaka kerajaan), perkawinan, sunatan, khitanan, upacara akil balik dengan memakaikan baju adat (nipasori baju bodo) kepada anak gadis, dan juga pada upacara ritual kelahiran (aqtompoloq) dan upacara penyembuhan penyakit cacar (tukkusiang).

Pada saat royong dilantunkan, iringan musik seperti ganrang (gendang), puik-puik, anak baccing (dua batang besi), kancing (dua buah piring tembaga), curiga (rantai-rantai), gong, dan dengkang. Semuanya dimainkan mengikuti irama, ketika royong dilantunkan.

Pada dasarnya, royong berfungsi sebagai sugesti. Penyampaian pesan lewat syair-syair yang dilantunkan kepada kekuatan supranatural dengan harapan, orang atau hajatan yang di-royong-i menggapai kehidupan yang baik.

Selain itu, royong berfungsi sebagai media komunikasi spiritual dengan Yang Maha Kuasa serta komunikasi gaib untuk menolak bala dan menjauhkan pelakunya dari roh jahat. Syair royong dianggap bisa menjaga keseimbangan makrokosmos dan mikrokosmos.

Sejarah royong

Kehadiran royong dikira bersamaan dengan kehadiran Tumanurung. Tumanurung di Gowa adalah seorang perempuan yang bernama Putri Tamalate. Disebut Tumanurung, karena tidak diketahui asal usulnya. Masyarakat pada saat itu hanya meyakini, kalau Tamalate adalah sosok yang turun dari langit untuk menjadi wali Tuhan demi menentramkan kehidupan.

Awalnya, royong merupakan tradisi masyarakat Bajo--orang-orang yang tinggal dan mencari penghidupan di laut. Mereka tidak mengenal kasta atau strata sosial, sebab menganggap dirinya sama dan sederajat dengan yang lainnya.

Orang Bajo disebut juga tosama (maksudnya semuanya sama dan sederajat), dan lantunan yang sering mereka nyanyikan disebut royong Bajo. Dari waktu ke waktu, royong Bajo masuk ke istana Kerajaan Gowa, seiring dengan perkawinan Karaeng Bajo dengan Putri Tamalate (Tumanurung, raja Gowa I).

Dalam pernikahan itu, dinyanyikanlah royong oleh orang Bajo. Ketika lahir anak pasangan Karaeng Bajo dengan Tumanurung, royong kembali dinyanyikan sebagai pengantar tidur anak sembari diayun.

Dari sinilah kebiasaan itu diulang orang dalam lingkungan istana pula. Semua yang berkaitan dengan upacara-upacara adat, harus ada royong. Royong menjadi skaral dan terbatas untuk kalangan tertentu.

Syair royong dilantunkan berbeda-beda mengikuti stratatifikasi masyarakat, sehingga royong terbagi menjadi:

1. Royong Bajo yang digelar untuk kalangan keluarga raja

2. Royong Karaeng untuk kalangan bangsawan

3. Royong Daeng untuk kalangan tumaradeka

4. Royong untuk budak belum ditemukan

Satu syair royong dengan terjemahan bebasnya:

Cui la ilau'mene manri'ba' sikayu-kayu mene, situntung-tuntungang ri passimbangenna Makka, ri alla'na Arapa, ri butta nisingarriamangaggaang ri sapa, namalo ri Marawa, ada menei makkio', ala kenna mappasengka, tulusu'mami mantama, attawapa' ri ka'bayya, ha'ji ribaetullayya.

Ninio'mi ri sehea, nitayomi ri pakkihia, kurru mae sumanga'nu, anak battu rite'nea, kutimbangiko doing, kurappoiko barakka', napappokoki, pakballe iballe nakkilolonna, ilena gulu'battanna, nasikuntumo numera, teamako ma'je'ne' mate-namate'nemo pa'mai'.

“Datanglah Cuwi, terbang sendirian, melayang tak hinggap-hinggap, di perbatasan Makka, di antara Arafah di tanah yang diterangi, lalu di Safa, juga di Merawah, mana dia yang memanggil, mana yang menyinggahkan, maka teruslah masuk, bertawaf di Kabbah haji Baitullah.

“Dipanggiilah oleh syekh, dijemput oleh fakih, bangkitkan sengatmu, anak datang dari bahagia. Kuhadiahi engkau doa, kujanjikan untukmu berkat, yang jadi sumber obat-obat penghias remaja, penawar isi perutnya. Maka semuanya menginginkan tak mau lagi berair mata dan bahagialah”.

Tampaknya agak sulit untuk mengerti arti bahasa royong yang dilantunkan, sebab banyak kalimat di dalamnya yang berlainan dengan kata Makassar yang sekarang. Narasinya banyak menggunakan bahasa Makassar kuno, doanya berisi mantra-matra yang dipersembahkan kepada dewata. Jika disimak, dapat dipahami maksudnya, yaitu memintakan doa dan harapan agar mendapat kebahagiaan di kehidupannya.

Pengaruh Islam kepada syair royong

Ketika Islam menjadi agama resmi kerajaan, unsur Islam mulai mempengaruhi tradisi dan kebudayaan masyarakat Makassar. Narasi royong yang tidak sesuai dengan akidah Islam dihilangkan.

Gunanya, agar masyarakat terhindar dari keyakinan-keyakinan yang berpotensi merusak akidah. Makanya, bait-bait lantunannya banyak dihubungkan dengan spritualitas Islam.

Pada masa pemberontakan DII/TII Kahar Muzakkar pada masa 1960-an. Kahar menjalankan "Operasi Taubat" dengan melarang pelaksanaan tradisi-tradisi yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam, termasuk royong. Dalam operasi itu, pasukan Kahar Muzakkar (oleh masyarakat disebut Gerombolan) tidak segan melakukan kekerasan.

Royong kembali tersesak ketika organisasi masyarakat bernapaskan Islam seperti Muhammadiyah, mulai banyak berdakwah di kalangan masyarakat. Perlahan, masyarakat mulai meninggalkan tradisi royong zaman dulu.

Semakin berkembangnya Makassar, royong kemudian menjadi sesatu yang biasa saja. Royong kini bisa dilakukan oleh kalangan bukan bangsawan dan siapa pun yang mempunyai kemampuan finansial, bisa menggelar dalam setiap kegiatan upacara daur hidup. Dengan kata lain, royong sudah bisa dijalankan oleh seluruh kalangan.

Royong di Makassar/Zulkifli Mappasomba/Etnis

Kini, budaya asing semakin menggerus tatanan nilai budaya dan tradisi lokal serta faktor internal yang timbul dari dalam masyarakat sebagai reaksi pandangan ilmu pengetahuan yang semakin beragam dan kompleks.

Perlahan, royong tidak lagi dianggap sebagai tradisi sakral. Ia tak punya magis lagi. Royong juga mulai dimodifikasi mengikuti irama modern dari gubahan tangan-tangan kreatif para seniman, sehingga lebih artistik dan menarik ditampilkan dalam pementasan pariwisata atau pelbagai pegelaran festival budaya.

Sementara sebuah nyanyian yang disenandungkan oleh pa’royong (vokalis royong), kini hanya berfungsi sebagai warisan kuno yang kehadirannya dianggap memperkaya khazanah budaya.

Editor: Almaliki