Jakarta, Lontar.id - Sebagai perantau yang sedang jauh dari Makassar, pada Ramadan seperti ini, saya ingat coto kuah putih di Abdullah Daeng Sirua.

Jelang berbuka, hampir setiap hari parkirnya dipastikan penuh. Cotonya juga cepat habis saat Ramadan. Entah memang pemiliknya hanya mengurangi stok dari hari biasanya atau tidak.

Coto putih, begitu saya menyebutnya, terbilang unik. Biasanya, kuah semangkuk coto itu berawarna cokelat tua karena sudah dicampur bumbu rempah yang sangat banyak.

Coto putih tidak. Kuahnya berwarna putih keabu-abuan. Dalam segi pemasaran, coto ini sudah menjadi jawara karena berhasil menjadi berbeda di antara dominasi coto yang biasanya ada di Makassar.

Saya gemar makan coto ini, karena dagingnya empuk. Kuahnya juga gurih dan mericanya cukup terasa ringan di lidah. Jika memakannya, saya bisa menghabiskan dua sampai tiga piring nasi sekali duduk.

Bayangkan saja, jika saat berbuka, kau disuguhi dulu dengan bubur kacang hijau. Setelahnya, kaumeneguk air minum dingin atau es jeruk.

Setelah pembukaan itu usai, di piringmu sudah terhidang nasi hangat yang sudah dibasahi dengan kuah coto putih. Kaumemakannya dengan santai. Tak terburu-buru.

Lidahmu hangat karena dilumuri kuah dan nasi. Teman yang sangat pas. Kau menjejali mulutmu lagi dengan satu potongan daging kecil dari mangkuk coto yang berada di depanmu.

Kaumemakannya dengan lambat. Mengunyahnya. Merasakan seluruh rempah menjalan ke mulutmu. Kaumerasa puasamu sekarang menjadi nikmat sekali.

Dalam kepalamu, kau mungkin saja menjadi orang yang beruntung bisa makan coto putih saat berbuka. Bagi saya pribadi, hal itu memang benar-benar lezat.

Soal coto putih, warung yang menjual coto kuah putih di Makassar ini sudah berdiri sejak 1987. Lokasinya ada di Jalan Abdullah Daeng Sirua.

Pengunjung bisa mencium aromanya yang sangat khas dan menggugah selera. Jika makan di tempat, kau bisa makan ketupat yang dibungkus daun pandan, sehingga aromanya menjadi sangat khas. Juga aneka kerupuk serta kacang goreng.

Pemilik warung makan Coto Kuah Putih Dg Sirua, Muhammad Tahir, dikutip dari Sindo, mengaku kalau coto yang disajikan di rumah makannya punya teknik memasak khusus.

Maksudnya, warna putih kuahnya dihasilkan dari teknik memasak, bahan, serta cara penyajiannya. Sementara bumbu yang dipakai, memang tidak terlalu spesial karena menggunakan bahan lokal.