Membaca Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis (II)

Kultur Apr 05, 2019

Etnis.id - Pemahaman setiap orang memandang persetubuhan berbeda-beda. Ada yang melihatnya sebagai proses rekreasi, dan ada yang melihatnya sebagai proses kreasi. Pemahaman itu membentuk seseorang ketika melakukan hubungan seksual.

Proses kreasi diidentikan dengan sesuatu yang dipenuhi dengan kesenangan, tujuan utamanya tentu saja agar mendapatkan kenikmatan seksual. Sementara, hubungan seksual yang dipandang sebagai proses kreasi tidak memperdulikan kenikmatan seksual tersebut. Yang terpenting adalah bagaimana memproduksi keturunan.

Dalam berbagai penelitian menunjukkan jika hubungan seksual yang dilakukan karena tuntutan tertentu tidak akan mendapatkan kenikmatana sosial, dan karenanya itu berdampak pada proses memiliki keturunan. Seorang teman mengaku telah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keturunan tapi setelah beberapa kali mencoba, dan mereka tidak mendapatkan hasil. Justru saat hubungan seksual dilakukan dengan santai, tanpa tuntutan apapun, program mereka memiliki keturunanpun berhasil.

Fenomena di atas sejalan dengan apa yang diungkapkan dalam kitab Assikalaibineng yang terlebih dahulu telah ditransliterasi dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Muhlis Hadrawi. Dalam kitab persetubuhan Bugis tersebut, seorang suami dan isteri dituntut agar dapat menikmati hubungan seksual satu sama lain. Yang menarik dari proses tersebut, kitab Assikalaibineng memberikan tuntunan yang tak biasa yakni bagaimana cara mendapatkan kenikmatan seksual, di saat yang sama  pasangan suami isteri juga bisa melakukan cara-cara dalam berhubungan seksual agar mendapatkan keturunan sesuai dengan program mereka.

Tidak sampai disitu, kitab Assikalaibineng juga mengajarkan perlakuan agar mendapatkan anak dengan jenis kelamin yang diprogramkan, pengetahuan lakuan hubungan seksual terkait bakat anak, warna kulit, dan lainnya.

Sebagai contoh, disebutkan dalam kitab Assikalaibineng: Waktu dan prilaku-prilaku kedua orang tua (suami dan istri) ketika melakukan persetubuhan memiliki keterkaitan secara tidak langsung dengan kualitas janin yang terbuahi, seperti yang sudah diuraikan sebelumnya. Kualitas anak baik secara fisik maupun mentalitasnya, dipercaya mulai terbentuk sejak ibu dan bapaknya melakukan persetubuhan.

Untuk menentukan jenis kelamin anak yang bakal lahir sesuai dengan yang diinginkan, pihak orang tua dapat mengupayakannya melalui lakuan-lakuan seksual tertentu, khususnya ketika melakukan persetubuhan. Dalam salah satu teks Assikalaibineng ditunjukkan secara singkat prilaku dalam persetubuhan yang berpengaruh langsung terhadap jenis kelamin anak sekiranya terjadi pembuahan.

Terjemahan:

(h.13) Pasal. Yang menjelaskan warisan guru saya/ jika menghendaki (anak) laki-laki, ketika bersetubuh, kaki kanannya (h.14) diangkat terlebih dahulu/ jika kita menginginkan anak perempuan, maka kaki kirinya diangkat terlebih dahulu dan kita membaca lafal ini: rapina rasa mani, rapi na rasa kumula/

Kutipan teks di atas menunjukkan lakuan khusus, jika ingin mendapatkan jenis kelamin anak tertentu terutama saat ingin melakukan penetrasi (koitus). Jika menginginkan anak laki-laki, maka menjelang penetrasi, suami hendaknya memegang dan mengangkat kaki kanan isterinya terlebih dahulu. Sementara itu, jika mendambakan anak perempuan, suami mengangkat kaki kanan isterinya sebelum penetrasi.

Dalam teks dijelaskan pula, pengetahuan-pengetahuan terkait lakuan persetubuhan khusus. Misalnya cara khusus agar bertahan dalam hubungan persebadanan, bagaimana cara mendapatkan anak yang berkulit putih atau hitam, cara merawat tubuh, dan waktu yang tepat untuk bersetubuh, serta lakuan-lakuan khusus lainnya.