Melestarikan Makanan HIK dan Angkringan

Boga Oct 24, 2019

Etnis.id - Sate keong, sate uritan, sate usus, tempe mendoan, nasi kucing, sate kere dan masih banyak jenis sate yang belum saya tulis, adalah bagian dari makanan yang cukup familiar. Semuanya masuk dalam HIK (Hidangan Istimewa Kampung).

Kata HIK sangat familiar di kota yang memiliki semboyan berseri yaitu Kota Solo, kota lahirnya Joko Widodo. Jika kita singgah di Kota Pelajar atau Kota Jogjakarta, HIK terkenal dengan nama angkringan.

HIK atau angkringan sudah dikenal masyarakat sejak tahun 1950an. Ia terus berkembang, tetapi tidak mengubah menu makanan yang disajikan. Pada kala selepas Magrib, sepanjang jalan Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Adi Sucipto di Solo, banyak dijumpai warung tenda dengan gerobak makanan di dalamnya.

Saat menyantap hidangan di HIK, pembeli dapat memilih tempat duduk si samping kanan dan kiri gerobak, atau memilih lesehan di sepanjang trotoar dengan beralaskan tikar. Suasana pingir jalan yang diterangi dengan sorot lampu kendaraan dan lampu jalan, sangat cocok dinikmati berdua dengan kekasih atau dengan
kerabat untuk sekadar melepas penat.

Tempat yang digemari oleh anak kosan yang sekadar makan atau ingin jalan berdua dengan pasangan, tapi dompet tak mendukung keadaan, HIK alternatifnya. Dengan suasana remang-remang romantis tipis-tipis, HIK menyediakan masakan khas dari kampung.

Maskot dari HIK sendiri adalah nasi yang dibungkus dengan ditemani sambal dan suwiran ikan bandeng. Nasi bungkus itu, jika kita nikmati, hanya memerlukan kurang lebih lima suapan untuk dapat menghabiskannya. Makanya disebut nasi kucing.

Dengan merogoh kocek sebanyak Rp2000, kita dapat menikmati nasi kucing. Gorengan yang beraneka ragam juga disajikan dalam hidangan HIK. Jika menginginkan rasa gorengan khas HIK, kita dapat meminta penjual untuk membakarnya di atas bara api lalu ditambahi dengan kecap atau sesuai selera kita.

Asal tahu saja, tidak semua HIK menyediakan makanan sate yang bermacam-macam, seperti yang telah kutulis di atas. Setiap HIK memiliki hidangan khas yang disajikan sebagai pembeda dari HIK yang lain, tetapi inti makananya tetap sama, hanya beberapa yang menjadi pembeda.

Tim Etnis saat menikmati sajian angkringan di Yogyakarta/Billy Chermutto

Tak afdal rasanya jika saya tak membahas sate yang unik di HIK. Seperti sate keong yang berukuran kecil, bertekstur kenyal dan berbau agak amis. Dari pengolahannya, keong dibersihkan dahulu, dididihkan menggunakan air dan ditambahi garam agar aman saat dikonsumsi. Setelah itu, keong baru dapat diolah menjadi sate.

Selain makanan yang sudah saya sebutkan, ada banyak menu minuman khas yang disediakan di sana. Wedang jahe gepuk, wedang JKJ (Jahe Kencur Jeruk), wedang teh kampul (lemon tea), minuman instan berbungkus saset yang sudah disediakan seperti kopi, susu dan beberapa jenis minuman.

Wedang jahe gepuk terbuat dari campuran jahe dan gula batu. Disebut jahe gepuk, karena dalam penyajiannya, jahe tersebut digepuk (dimemarkan) hingga berbentuk sedikit pipih. Tujuannya agar jahenya mengeluarkan bau yang harum dan makin pedas. Wedang yang disajikan di HIK, sangat cocok dinikmati kala malam dan musim hujan. Minuman itu pantas untuk menghangati tubuh.

Pepatah Jawa mengatakan, sapa nandur bakalan ngunduh. Secara harfiah, berarti siapa yang menanam, pasti bakal menuai. Hal itu mengajarkan agar manusia yang hidup di dunia ini tidak hanya mengejar kepuasan, kepopuleran dan kesejahteraan dirinya sendiri. Dengan menanam kebiasaan untuk selalu melestarikan makanan tradisional, maka suatu saat nanti, kita bakal menerima hasilnya dan dioper ke anak cucu kita. Kenikmatan HIK harus dibagi-bagi dan disiarkan bukan?

Editor: Almaliki

Lupita Sundari

Just A Teacher