Magis Wayang Topeng Malangan

Ritual Mar 24, 2020

Etnis.id - Seusai pertunjukan hampir 2 jam, Ardhi tampak bersemangat. Mahasiswa semester delapan Universitas Negeri Malang ini masih menyempatkan diri berfoto dengan beberapa kawannya, yang menonton maupun sesama penari Wayang Topeng Malangan.

“Sejak 2017 sering ikut Gebyakan di sini, kecuali pas saya ada tanggapan sendiri di rumah,” ujarnya ketika saya temui di Pendopo Sanggar Seni Topeng Malangan Asmoro Bangun, Pakisaji, Kabupaten Malang, Jawa Timur (15/3/2020).

Ia memerankan karakter Sabrang, Sang Patih, anggota dari Klono (karakter Antagonis bertipikal merah) dalam lakon Patah Kudonorowongso malam itu. Patah Kudonorowongso adalah salah satu dari 15 cerita dalam Wayang Topeng Malangan versi Sanggar Asmoro Bangun: Rabine Panji, Jenggolo Bangun Candi, Adeg-adeg-ke Jenggolo, Patah Kudonorowongso, Sayemboro Sodo Lanang, Lahire Nogo Tahun, Walang Wati Walang Semirang, Baderbang Sisik Kencono, Gunungsari Kembar, Ronggeng Roro Jiwo–Ronggeng Roro Tangis, Panji Laras Adu Jago, Sekartaji Palsu, Rabine Bapang, Umbul-umbul Madyopuro, dan Gegere Gunung Wilis.

Alkisah, Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmoro Bangun telah menikah.  Lalu, Dewi Sekartaji diculik oleh Begawan Gajah Abuh. Alasannya, anak Begawan Gajah, Dewi Wadal Werdi, ingin menjadi istri Panji Asmoro Bangun. Begawan Gajah adalah raksasa.

Untuk mengelabui Asmoro Bangun, Wujud Wadal Werdi diubah seperti Sekartaji. Sementara Dewi Sekartaji asli yang berada di hutan, sangat sedih. Akhirnya, datanglah pertolongan Dewa Narada dan memberi solusi, mengubah Sekartaji menjadi Patah Kudonorowongso: Dalang wayang spesialis meruwat.

Sang Sekartaji palsu ternyata menderita penyakit kulit. Dalang ruwat ini diundang untuk menyembuhkannya. Dalang menghadirkan dua karakter Burung Hantu (berwajah jelek) dan Burung Kepodang yang berparas menarik. Dua simbol yang berlawanan.

Lakon ini ternyata menyinggung hati si Sekartaji palsu. Dia mengamuk, wujudnya berubah sediakala sebagai anak raksasa, yaitu Dewi Wadal Werdi.  Tahu usahanya gagal, sang Begawan Gajah Abuh ikut mengamuk. Raden Panji datang untuk meredakannya dengan kemenangan.

Karakter Panji Asmoro Bangun (kanan) dan Wadal Werdi (kiri) dalam lakon Patah Kudonorowongso/Arif Wahyudi/Etnis.id

Dewi Sekartaji dan Panji Asmoro Bangun, akhirnya berkumpul kembali. Kerajaan Jenggala menjadi kembali tenteram. Ajaran luhur tentang pertarungan kejahatan vs kebaikan, juga keselarasan hidup.

“Ada banyak hal yang bisa saya peroleh (dari kesenian Wayang Topeng Malangan ini), kejujuran, perjuangan, dan fokus. Tanpa fokus kita akan mudah dirasuki ‘setan’. Bisa ngawur nanti saat pentas kalau nggak konsen,” kata mahasiswa yang juga Dalang Wayang Purwa ini. Seingat Ardhi, sebelum pentas juga dilakukan latihan, berdoa bersama, juga tak lupa ada cok bakal berupa Gedhang Setangkep (sesisir pisang).

Gebyakan kali ini diikuti oleh sekitar 30 Anak Wayang, Dalang, Panjak (Wiyaga) yang bertugas menabuh gamelan dan menyinden. Para anak wayang adalah para siswa sanggar, gabungan beragam usia mulai SD hingga usia 20-an. Ada empat mahasiswa yang ikut. Sedangkan Dalang dan Panjak biasanya seniman yang lebih senior. Termasuk di dalamnya Tri Handoyo (41).

Ia adalah pembina sanggar, sekaligus sutradara pementasan kali ini. Handoyo saya amati begitu lihai memainkan kendang. Dalang dipercayakan kepada Kamdani. Istri Handoyo, Saini dan beberapa saudaranya berperan sebagai Panjak.

Untuk diketahui, Wayang Topeng adalah seni drama dengan penonjolan aspek tari sebagai dasar penyajian, termasuk aspek komunikasi penari (Anak Wayang) dengan vokal utama dalang. Penari yang mengenakan topeng kayu tidak berkomunikasi dengan suara, hanya gerakan ritmis mengikuti dalang, dinamis mengikuti alunan gamelan.

Cerita Wayang Topeng Malangan sangat identik dengan lakon Panji. Cerita Panji adalah alternatif dari epos besar Mahabarata dan Ramayana.

Para tokoh baik/protagonis dengan ciri khas mata berbentuk bulir padi dalam Wayang Topeng Panji/Arif Wahyudi/Etnis.id

Mewarisi semangat Sang Maestro Mbah Karimoen

Padepokan Seni Asmoro Bangun yang berada di Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji dikenal sebagai salah satu titik pengembangan kesenian Wayang Topeng Panji di Malang Raya. Mbah Karimoen (maestro Tari/Pembuat Topeng Malangan) adalah sang pendiri.

Kakek dari Handoyo ini wafat pada 2010 dalam usia 91 tahun. Ia dimakamkan di area Punden Sumberkurung yang dikeramatkan warga Kedungmonggo. Letaknya sekitar 300 meter dari sanggar. Di tepian Kali Metro yang penuh peninggalan sejarah lampau, di bawah naungan pepohonan teduh.

Pada 2007, Karimoen dinobatkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik sebagai salah satu dari 27 maestro seni tradisi Indonesia. Di padepokan ini juga digelar program rutin pelatihan menari topeng pada hari Minggu, mengukir topeng (tiap hari), karawitan (dua kali sepekan) yang diasuh oleh Handoyo dan beberapa seniman lain yang rata-rata ada garis keluarga.

Khusus untuk Gebyak Malam Senin Legi, tidak dipungut biaya untuk menonton dan terbuka untuk umum. “Awal adanya Gebyak adalah rasa syukur pada Pencipta. Bentuk ucapan terima kasih kami pada pendahulu yang telah ‘mbabat alas’ sehingga dusun ini bisa kita tempati saat ini. Termasuk pada pencipta kesenian Wayang Topeng. Dari pandangan seni, gebyak adalah untuk menghibur warga,” tutur Tri Handoyo ketika saya temui seusai Gebyak (15/03/2020).

Gebyak dalam bahasa Indonesia berarti panggung pertunjukan. Bagi warga Kedungmonggo, Minggu Kliwon Malam Senin Legi adalah keramat. Hari lahir dusun dalam penanggalan Jawa. Jika kita mengenal istilah bersih desa, pertunjukan Wayang Topeng adalah ritual manggulan (pembukanya) di sana.

Pada malam hari seusai Gebyak, para tetua turun ke Punden untuk berdoa bersama. Pada pagi keesokan harinya, diadakan acara barikan yang dihadiri seluruh warga Dusun Kedungmonggo. Pada generasi awal (Kakek Mbah Karimoen), Gebyak digelar setahun sekali hanya pada bulan Suro.

Tri Handoyo (bermain Kendang), generasi kelima penerus Sanggar Seni Asmoro Bangun, Kedungmonggo/Arif Wahyudi/Etnis.id.

Ketika Mbah Moen, gebyak hanya dihelat ketika ada anggarannya saja. Setahun hanya 2–3 kali. Di era Handoyo sekarang, gelaran sakral ini selalu diusahakan tiap 35 hari sekali (Selapan Dino Pisan) pada Minggu Kliwon Malam Senin Legi. 10 kali dalam setahun. Minus libur pada bulan Ramadan. Meski pementasannya tak lagi semalam suntuk, hal ini sudah rutin dilakukan Handoyo sejak 5 tahun lalu.

Hingga saat ini, Sanggar Asmoro Bangun Kedungmonggo sudah memiliki 5 generasi penerus seni. Mereka adalah: Serun, Kiman, Karimoen, Taselan, dan Handoyo. Handoyo adalah dosen pengampu di Universitas Negeri Malang. Baginya, Gebyakan juga berarti arena pengasah kemampuan, mental, ‘roso’ dan karakter siswanya.

Wayang Topeng Panji versi Kedungmonggo dikenal memiliki 76 jenis karakter. Dibagi menjadi 4 kelompok besar: Protagonis, Antagonis, Lucu/Abdi Dalem, dan Binatang. Meski sering melibatkan banyak siswa anak, tak membuat Handoyo meninggalkan ritual khusus dalam Gebyak.

“Namun bedanya, ritual tersebut cukup saya sendiri yang mengerjakan. Anak-anak cukup tahu pentasnya berjalan lancar. Karena tidak semua tahu tata caranya,”

Kawruh luhur ini, meski berniatan baik, bagi yang tidak paham akan dipandang sebagai perilaku yang aneh. "Ada yang mengaitkan dengan perilaku ‘setan’," kata Handoyo tertawa kecil.

Ini adalah bagian dari adaptasi dengan perkembangan zaman. Termasuk cara agar para generasi muda mudah tertarik belajar berkesenian tradisional. Tapi sekali lagi, Wayang Topeng bagi masyarakat Kedungmonggo adalah bagian dari hidup berbudaya.

Alat gamelan yang digunakan untuk berlatih menari/Arif Wahyudi/Etnis.id

Ketika menari, membuat topeng, maupun menabuh gamelan, semuanya harus dilandasi keyakinan spiritual yang kuat, serius. Ini adalah cara menyelaraskan diri dengan kehidupan gaib yang ada di sekitar mereka. Yang tidak kasat mata pun diyakini para penerus kesenian ini, akan ikut menonton pertunjukan.

Selain Kedungmonggo, Pakisaji, di wilayah Malang Raya lain (kota, kabupaten) ada beberapa denyut budaya Topeng Malangan yang punya kekhasan masing-masing. Di antaranya: Glagahdowo, Jabung, Tumpang, Polowijen, Jatiguwi, Jambuer, Pijiombo.

Di Polowijen, Kota Malang, adalah tanah kelahiran almarhum Ki Tjondro Suwono (Buyut Reni), Empu Topeng Malangan. Puncak kejayaan Polowijen sebagai acuan sanggar-sanggar wayang topeng di Malang terjadi pada era 1880–1930an, pada masa pimpinan Raden Adipati Soerioadiningrat.

Editor: Almaliki

Arif Wahyudi

Tertarik pada fotografi manusia, interaksi budaya, lingkungan