Bagaimana dalang menyiasati lakon wayang di musim pandemi?. Ada baiknya, mari kita simak penggalan narasi lakon berikut ini:

Duryudana sedih bukan kepalang. Ia berteriak histeris, mengutuk para dewa. Hastina Pura, kerajaan besar yang dipimpinnya sedang dilanda pageblug dahsyat. Tak sedikit rakyat tiba-tiba sakit dan tak lama berselang, mati. Hampir separuh rakyatnya seperti terserang guna-guna.

Dalam dunia pewayangan, kematian yang diakibatkan oleh pageblug adalah sebuah anomali. Selama ini, kematian harus didapat dari satu jalan: perang, bukan dengan cara yang lain. Oleh karena itu, mati karena wabah penyakit dianggap sebuah aib memalukan.

Kesatria-kesatria tangguh yang selama ini dibanggakan hanya menjadi boneka lunglai tak berdaya, mati konyol tak terhunus senjata. Duryudana memanggil patih kesayangannya, Sengkuni. Ia bertanya kepada sang patih, siapakah yang menyebabkan guna-guna itu?. Tanpa berpikir panjang, Sengkuni menjawab bahwa semua penyakit itu dikirim oleh Pandawa.

Duryudana murka. Segera ia memerintah seluruh pasukannya untuk menyerang Amarta, kerajaan yang dipimpin Pandawa. Duryudana menyadari bahwa dalam epos Mahabarata, ia berada dalam posisi antagonistik dengan akhir selalu menuju satu titik: kalah. Namun, resiko itu ia terjang. Mati karena perang lebih terhormat dibanding mati karena pageblug.

Tetapi siapa sangka, ternyata Amarta juga sedang dilanda masalah serupa. Separuh rakyatnya mati tanpa sebab. Dalam perang saudara itu, tiba-tiba Semar—sosok Punokawan tertua—muncul sebagai penengah, memberi petuah, bahwa penyakit tidak akan hilang dengan cara berperang, melainkan lewat kontemplasi: penyerahan diri seutuhnya kepada Sang Pencipta, sambil berikhtiar menemukan obat.

Perang fisik dapat diakhiri, berganti menjadi perang melawan wabah. Kedua kerajaan tersadarkan, bahwa selama ini, kisah hidup mereka yang senantiasa menarasikan keangkuhan, kekuasaan dan kebencian, telah digantikan oleh pageblug yang membawa kenyataan baru: persatuan dan kebersamaan.

Kreativitas

Lakon dengan judul “Busuk Ketekuk, Pinter Keblinger” tersebut tentu saja tak ada dalam kitab pakem pewayangan Mahabarata. Lakon itu merupakan hasil sanggit Ki Dwi Suryanto—atau yang lebih akrab dipanggil Dalang Gendut—dalam pentas virtual Parade Seni Bulan Kemerdekaan pada 7 Agustus 2020 di kediaman Ki Manteb Soedharsono (juga pentas 15 Agustus di Rumah Banjar Sari, Solo). Rekaman pertunjukannya masih dapat kita nikmati di kanal youtube Budaya Saya dan Budaya Maju yang dikelola oleh Kemendikbud.

Dalang Gendut tak tampil sebagaimana dalang pada umumnya. Ia menamai gelarannya itu dengan “CongWayNdut”, akronim dari “Keroncong Wayang Gendut”. Gendut tidak memakai gamelan, melainkan musik diatonis yang lekat dalam musik keroncong. Ia menambahkan beberapa instrumen perkusif agar terdengar lebih ramai, seperti kendang jaipong, kendang taganing dan drum.

Penggunaan bahasa Indonesia di dalam lakon, membuat CongWayNdut digemari oleh generasi muda. Kendati nama “keroncong” disematkan, namun jangan berharap dinamika musikal statis yang muncul dalam pementasan ini. Sebaliknya, Gendut membuatnya menjadi lebih dinamis, ramai dan meriah.

Bayangkan saja, di tengah pertunjukan, pada saat audiens diberikan tegangan emosional puncak dalam adegan perseteruan antara Kurawa dan Pandawa, tiba-tiba saja Gendut berdiri membelakangi kelir, menghadap penonton (kamera) dan membawakan musik rap dan hip-hop. Sontak, hal itu membuat penonton tertawa sekaligus kesal. Tertawa lantaran lagu dan ekspresi yang dibawakannya cenderung lucu dan unik, tetapi kesal karena bangunan emosi yang mulai memuncak, mendadak buyar.

Dalang Gendut sengaja menghadirkan sebuah gelaran yang menarik untuk disimak. Nilai-nilai tuntunan sebagaimana dogma pementasan wayang kulit pada umumnya, baginya tak menjadi soal. Sebab yang terpenting, menurut Gendut, generasi muda tertarik dulu pada wayang kulit.

Kekuatan CongWayNdut terletak pada pertemuan berbagai macam genre, mulai dari pop, rock, dangdut, hip-hop, keroncong dan kontemporer yang ia sematkan lewat banyolan-banyolan menggelikan dan interaktif.

Di antara pemusik yang berjumlah 16 orang itu, terselip Si Doel, komedian terkenal dari kelompok musik humor Pecas Ndahe Solo. Si Doel bertugas mengomenteri (ngentuli) apapun yang terjadi di atas panggung wayang.

Seperti halnya pertunjukan Wayang Golek di Jawa Barat, ada komunikasi yang intens antara dalang dengan salah satu pemain. Seringkali tokoh-tokoh pewayangan yang dianggap sakral dan berwibawa, seperti Bima atau Krisna, justru membawakan peran yang menghibur lewat aneka lelucon.

Gendut seolah berpesan bahwa, jangan hanya menafsirkan sosok wayang dari satu sisi saja. Bayangkan, betapa menjemukannya jika melihat Bima yang kaku dan serba serius itu. Sebab setiap tokoh, tentu memiliki katarsis lain, seperti ekspresi tertawa atau kebutuhan atas hiburan dan banyolan agar tak bosan.

Dalam hal ini, Gendut berhasil membawakan sebuah ciri khas baru dalam pertunjukan wayang kulit di Jawa, yakni dengan menjadikannya lebih hidup dan bergairah.

Tentu saja, apa yang dilakukan Gendut tak terelakkan dari kritik maupun hujatan. Tak sedikit yang menganggapnya terlalu jauh menyimpang dari tradisi, meninggalkan pakem dan merusak tatanan. Tetapi, bukankah setiap perubahan dan karya baru pasti akan menimbulkan polemik?. Setidaknya, hingga detik ini Gendut telah berhasil mengajak kaum muda untuk menyaksikan pertunjukannya.

Sebelum masa pandemi, setiap gelaran CongWayNdut senantiasa sesak dengan penonton. Sedangkan di musim pandemi seperti saat ini, ia masih saja mendapatkan berkah tersendiri lewat jenis dan gaya pertunjukannya yang dirasa paling akomodatif untuk ditampilkan dalam konteks virtual.

Menyaksikan CongWayNdut tak ubahnya menonton pertunjukan musik pop di televisi. Selain enak dilihat dan didengar, karyanya juga tak picisan. Tampak disana bahwa CongWayNdut ‘digarap serius agar tak menjadi terlalu serius’.

Bukankah di musim pandemi ini, kehidupan kita sudah terlampau serius dan dramatis?. Jenis tontonan yang menghibur dan mengundang tawa tentulah sangat ditunggu-tunggu. Gendut bersama kelompoknya, CongWayNdut, berhasil mengisi kekosongan lewat fragmen pementasan wayang kulit yang lebih dinamis dan semarak.

Penyunting: Nadya Gadzali