Etnis.id - Gudeg merupakan sajian khas Yogyakarta. Kesepakatan ini sudah ada dan sampai sekarang masih dipegang teguh meski kita masih bisa menemukan gudeg di Solo yang sedikit berbeda dengan di Yogyakarta.

Sebenarnya dari mana makanan khas ini berasal? Berbagai mitos masih mengiringi terkait asal-usul gudeg. Memiliki predikat makanan khas, menjadikan gudeg kini memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat.

Hampir semua orang Yogyakarta mengenal apa itu gudeg. Bahkan teman saya yang dari luar Yogyakarta kenal dengan makanan khas satu ini. Sebagai makanan khas, tentu memiliki posisi tersendiri di kalangan masyarakat.

Sederhananya, ada jarak antara gudeg dengan masyarakat Jogja. Sebab, gudeg jarang sekali dijadikan hidangan dalam masakan rumah tangga sehari-hari, meski gudeg sering sekali disantap sehari-hari di luar rumah. Bahkan, hampir di semua sudut Kota Jogja kita akan menjumpai penjual gudeg.

Sebelum lebih jauh, perlu dijelaskan terlebih dahulu apa itu gudeg. Bagi orang Yogyakarta, pengetahuan akan gudeg tentu tidak berbeda dan sudah sangat jelas. Hal ini tentu tidak berlaku bagi orang yang tidak terlalu dekat dengan gudeg. Bisa jadi muncul pengertian yang agak rancu.

Perlu dijelaskan, bahwa gudeg adalah makanan khas kota Yogyakarta yang menggunakan nangka muda sebagai bahan utamanya. Sebenarnya gudeg hanya terbuat dari nangka muda yang ditambahkan gula aren. Manis rasanya. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan waktu, gudeg hadir dalam pelbagai bentuk penyajian.

Saat ini gudeg lebih dipresentasikan dalam bentuk makanan dengan paket lengkap. Meliputi telur, sambal goreng tempe, ayam, krecek hingga daun singkong. Kehadiran rasa manis dan warnanya yang kecoklatan menjadikan gudeg sangat mudah diingat.

Salah satu penjual gudeg di Yogyakarta mengatakan, “Gudeg merupakan makanan yang rumit. Mulai dari cara membuatnya hingga rasanya." Lebih dari itu, untuk menghasilkan gudeg, dibutuhkan waktu yang tidak singkat.

Seorang pemilik rumah makan mengatakan untuk mempersiapkan gudegnya saja, dirinya membutuhkan waktu sampai dua hari. Apakah karena lamanya waktu memasak ini yang menjadikan gudeg memiliki predikat sebagai makanan khas. Tentu tidak.

Di balik rasanya yang unik, gudeg memiliki sejarah tersendiri. Dari beberapa sumber disebutkan, jika gudeg bermula sejak 5 abad yang lalu. Saat itu prajurit Kerajaan Mataram sedang berjalan di hutan belantara. Hal itu dilakukan untuk memperluas wilayah Kotagede, Yogyakarta.

Ketika para prajurit masuk ke dalam hutan belantara, mereka menjumpai banyak pohon nangka dan juga kelapa. Dua pohon tersebut menghasilkan buah yang langsung dimakan.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, para prajurit tersebut memiliki ide untuk mengolah kelapa dan juga nangka menjadi bentuk makanan lain. Hasil eksperimen dari prajurit tersebut, hingga akhirnya menghasilkan satu sajian yang lezat dari buah nangka, yaitu gudeg.

Singkat cerita, guna memenuhi kebutuhan makan, para prajurit akhirnya memasak gudeg menggunakan ember dengan ukuran lumayan besar serta terbuat dari bahan logam. Uniknya, untuk mengaduk adonan tersebut, ternyata menggunakan benda yang berukuran lumayan besar dan panjang.

Sekilas tidak seperti pengaduk makanan, mengingat besarnya hampir seukuran dayung perahu. Proses pengadukan makanan dalam ember tersebut dikenal dengan hangudek. Dari kata hangudek inilah muncullan nama gudeg.

Bisa dikatakan gudeg tercipta dari ketidaksengajaan. Saat itu prajurit Kerajaan Mataram hanya mencari cara yang mudah untuk menjadikan buah nangka menjadi sajian lauk pauk. Siapa yang bisa menyangka kalau rasanya yang unik tersebut kini menjadi ikon kuliner bahkan identitas Kota Pelajar, Yogyakarta.

Dari resep yang pertama kali dikenalkan oleh prajurit Mataram, kini telah meluas dalam pelbagai sajian yang menarik. Meski demikian, rasanya tetap tidak berubah dari dahulu sampai sekarang. Manis.

Selain memiliki sejarah yang unik, pada zaman dahulu saat belum ada mobil dan ponsel mewah seperti sekarang ini, gudeg juga menjadi bagian tolak ukur kekayaan seseorang. Meski menyantap buah nangka yang ditambahkan kuah kelapa saja sudah dikenal dengan nasi gudeg. Namun, ternyata dahulu hanya masyarakat kelas bawah yang menyajikan dalam bentuk seperti itu.

Berbeda dengan orang kelas menengah yang akan menambahkan lauk pauk lain seperti tempe dan tahu. Dan juga orang dari kalangan ningrat atau bangsawan akan menjikan gudeg dengan tambahan lauk yang lebih mewah yakni ayam dan telur.

Kini, kita dengan mudah menjumpai gudeg dalam pelbagai bentuk sajian. Ada yang hanya nasi dan sayur nangka saja, nasi dengan tahu tempe atau nasi gudeg lengkap dengan ayam dan telur. Berbeda dengan zaman dahulu, saat ini, pemilihan sejian sudah tidak dikaitkan dengan tingkat kekayaan, namun lebih pada selera makan.

Editor: Almaliki