Darmo Tirto, Si Pembagi Air di Jawa

Kultur Oct 03, 2019

Etnis.id - Air merupakan sumber kehidupan, saya kira hampir semua orang sepakat dengan kalimat tersebut. Tidak mengherankan jika kemudian muncul istilah mending menahan lapar, dibandingkan menahan haus.

Kalimat itu mewakili betapa pentingnya air di dalam kehidupan sehari-hari. Saking pentingnya, akhirnya banyak orang yang berusaha sedemikian rupa untuk membagi air dalam kehidupan.

Sebab pentingnya air, lahirlah pelbagai konsep pengairan di beberapa daerah di Indonesia. Darmo Tirto salah satunya. Sebelum ada dinas pengairan, Darmo Tirto sudah eksis serta berhasil menyelesaikan masalah pengairan di Jawa.

Sampai sekarang, beberapa daerah di Jawa Tengah terutama daerah Sragen, Karanganyar, Boyolali, Klaten masih akrab dengan namanya Darmo Tirto. Darmo Tirto lebih merujuk pada pekerjaan yang dibebankan kepada seseorang untuk mengatur sistem pengairan.

Mengenai asal muasal katanya, dharma atau darma dalam KBBI merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Sanskerta dengan arti dasar berupa kewajiban, aturan serta kebenaran.

Di sisi lain, Tirto merupakan istilah lain dari air. Dari kedua kata tersebut apabila diambil kesimpulan, Darmo Tirto merupakan kewajiban seseorang dalam mengurusi pengairan. Tidak mengherankan jika Darmo Tirto lebih menekankan pada tugas yang diemban oleh seseorang.

Bagi kita yang hidup dalam era modern, bisa jadi sangat asing dengan kearifan lokal seperti ini. Bagaimana tidak, kini kita hidup dengan sistem pengairan yang sangat mudah dan praktis.

Akan tetapi, jika kita amati lebih jauh lagi mengenai fungsi air dalam kehidupan, ternyata sangat kompleks sekali. Air bukan sekedar sesuatu yang mengaliri tenggorokan di kala haus. Bukan juga sekedar pembasuh tubuh ketika kotor.

Lebih dari itu, air telah masuk ke dalam semua ruang kehidupan. Hampir semua yang kita lakukan, yang kita makan tidak bisa dipisahkan dari fungsi air. Apakah mungkin tanaman yang kita makan untuk mengganjal perut kita ini tidak membutuhkan air untuk bisa tumbuh. Saya kira semua orang tau jawabannya.

Pentingnya keberadaan air di pelbagai kehidupan, membuat masyarakat Jawa sadar untuk membagi air. Saya kira ini merupakan sebuah konsep yang sangat bagus. Pembagian air bukan sekedar untuk minum dan membersihkan tubuh saja. Lebih dari itu, pembagian air juga menjelma ke dalam setiap ruang-ruang tanah yang digunakan untuk menanam tumbuhan.

Hadirnya Darmo Tirto secara tidak langsung telah membentuk konsensus tertentu dalam sistem pengairan di Jawa. Darmo Tirto memang tidak melahirkan kepakatan tertulis yang memerlukan tanda tangan khusus untuk bisa dilaksakanan. Tidak serumit itu.

Konsep Darmo Tirto diajarkan secara langsung dari generasi ke generasi. Karena melekat kuat dalam kehidupan, tanpa ajaran pun kita sudah bisa paham. Darmo Tirto bekerja untuk membagi air yang mengaliri sawah-sawah penduduk. Mereka membaginya dengan sangat adil.

Di Jawa pembagian air didasarkan pada penanggalan Jawa. Pahing, Pon, Wage, Kliwon dan Legi. Pasaran Jawa, orang mengenalnya. Setiap sawah penduduk sudah memiliki giliran masing-masing. Air berasal dari satu sumber, katakanlah sungai besar. Airnya akan dialirkan secara merata ke sawah-sawah penduduk sesuai tanggal gilirannya.

Si Darmo Tirto inilah yang bertugas mengalirkannya. Tanpa imbalan gaji yang tetap, ia akan senantiasa membagikan air sesuai gilirannya. Ada sawah yang mendapatkan giliran waktu Pon, Wage ataupun Kliwon. Dalam pembagian itu juga tidak ada antarpenduduk yang merasa iri.

Selama saya tinggal di kampung, belum pernah saya jumpai permasalahan penduduk mengenai pembagian air. Tidak ada yang prostes kok mengapa air ke
sawahnya sedikit, pada yang lainnya lebih banyak. Ibaratnya nerimo ing pandum.

Biasanya, dalam satu desa akan ada beberapa orang yang ditugaskan untuk menjadi Darmo Tirto. Meraka akan membagi jadwal giliran dan memegang kunci pengairan. Setiap pagi, sore hingga malam mereka akan berkeliling ke sawah-sawah penduduk.

Peran Darmo Tirto ini sangat penting dalam sistem pengairan. Terlebih saat musim kemaru seperti sekarang ini. Bayangkan manakala tidak ada pembagian air yang jelas. Apakah mungkin setiap lahan akan mendapatkan aliran air kala hujan belum turun?

Kalau kita amati, ini merupakan konsep yang sangat bagus. Semua orang akan sadar akan jatahnya masing-masing serta yang membagikannya pun juga adil sesuai kesepakatan. Hal ini dimaksudkan supaya kelak semua tanah bisa tumbuh subur hingga pada akhirnya semua penduduk  dapat menikmati panen yang melimpah. Tujuannya sangat jelas, untuk kesejahteraan bersama.

Editor: Almaliki