Bayang-bayang Opresi dalam Tato Orang Mentawai

Kultur Nov 24, 2019

Etnis.id - Tato itu masih dianggap sebagai identitas seorang kriminal di negeri ini. Selalu saja begitu. Tapi pernahkah kita menelisik arti tato di tubuh orang-orang Mentawai, yang sebenarnya adalah tradisi dan budaya luhur tetua mereka?

Saya menemui Joel Frianto Sikatsila dan Dedi di salah satu kedai kopi di Jalan Raden Saleh, Jakarta. Mereka berdua keluarga. Saat itu, saya dihubungkan oleh seorang kawan dari Makassar, Wahab namanya.

Joel, Dedi (berbaju hitam) dan Wahab (berbaju putih)/Etnis/Billy Chermutto

Joel berambut gondrong sebahu. Sering memakai fisherman hat berwarna hitam. Perawakannya kurus. Kulitnya sawo matang. Ia gemar tersenyum. Tak ada kesan jahat di wajahnya yang ouval. Joel punya banyak tato. Di tangannya, di kakinya, di dadanya. Tatonya unik bermotif garis-garis panjang seperti anak panah yang menjulur di lengannya. Ia seorang penato. Orang-orang menjulukinya sipatiti.

Joel tak cuma pandai merajah dengan motif tato Mentawai. Ia juga pintar menggambar motif lain seperti tulisan dan wajah di tubuh orang. Ia sudah menjadi tato artis.

Joel saat berpose memakai ikat kepala kabit/Etnis/Billy Chermutto

Joel bukan orang yang menetap di Jakarta. Ia tinggal di Mentawai, Sumatera Barat dan pernah berkuliah di Padang. Ia ke Jakarta untuk memperkenalkan budaya tato dalam Pekan Kebudayaan Nasional yang belum lama ini diadakan Dirjen Kebudayaan.

"Tato saya ini punya banyak arti Bro," sebutnya.

Dedi menyambut kata-katanya. Ia mengeluarkan buku berbahasa Inggris karangan Reimar Schefold yang berjudul Mainan bagi Roh. Mata saya terbelalak. Karya itu membuat saya tertarik. Dedi lebih banyak menjelaskan. Saya pikir, dia bisa menjadi seorang pemandu dan corong suara yang baik untuk desanya di Mentawai.

"Lihat ini, Kawan."

Di buku itu, tertampil foto-foto yang diambil pada medio 1800-an sampai 2000-an. Terpampang tetua Mentawai, rumah adat, kendaraan yang dipakai menyusuri sungai serta monyet buruan yang diambil tengkoraknya untuk dijadikan mainan roh.

Dedi menjelaskan, untuk mengindentifikasi orang-orang Mentawai, ada tato yang melekat di tubuhnya. Saya paham. Tato ternyata begitu berarti bagi mereka. Aneh saja ketika sistem ingin merobohkan sebuah identitas yang unik.

Joel saat berpose memakai ikat kepala kabit/Etnis/Billy Chermutto

"Misal, ada tato hewan seperti anjing di tubuh orang Mentawai, itu artinya mereka adalah seorang pemburu. Banyak lagi motif yang satu per satu punya arti tersendiri."

Dedi tidak bertato. Kulitnya coklat sawo. Matanya sipit. Beda dengan Joel. Menurutnya, bertato dan tidak, di Mentawai, itu adalah hak. Tak ada paksaan. Dedi punya pertimbangan mengapa tubuhnya tak ditato seperti kawan-kawannya yang lain.

Senada, saya juga tak mau menato tubuh saya. Sebab, saya pikir itu sakit. Namun, tak serta-merta, jika saya tak bertato, saya membenci orang yang bertato. Tato urusan privat dan itu dihargai bersama.

Di Indonesia, aturan untuk menjadi pegawai negeri sipil sungguh diskriminatif menurutku. Orang-orang tak boleh bertato. Sementara, seorang mantan menteri bernama Susi Pudjiastuti, bertato.

Privilese bekerja dengan sempurna. Orang-orang yang dekat dengan kekuasaan, dianggap tak masalah jika bertato. Lalu orang-orang yang jauh darinya, kelas menengah ke bawah, dikucili jika bertato, dianggap nista, dianggap penjahat.

Joel saat berpose memakai ikat kepala kabit/Etnis/Billy Chermutto

Saya pernah punya pengalaman soal tato. Dulu, sebelum Orde Baru runtuh, paman saya menato tubuhnya dengan motif bunga bawar merah berduri. Ia berkuliah di Universitas Muslim Indonesia di Makassar.

Tersebab aturan negara dan gali (gabungan anak liar) yang saat itu diindentikkan dengan tato lalu dicari-cari orang-orang Soeharto. Paman saya akhirnya memilih menyetrika lengannya. Menghabisi tatonya.

Ia melekatkan setrika yang tidak terlalu panas di lengannya. Sebelum itu, ia melumuri cairan yang membuat tinta rajahnya luntur. Saya membayangkan, bagaimana sakitnya tangan paman saya. Jelas perih sekali.

Di Mentawai, Joel dan kawan-kawannya juga punya cerita tentang bagaimana sebuah rezim menganggap orang-orang bertato adalah komunal yang hina. Dalam katalog yang dipresentasikan Sitasimattaoi (perkumpulan penato dari Mentawai yang ada Joel di dalamnya), tersebut bahwa Teu Paritcik Kerei dan istrinya, Bai Paritcik Kerei, menceritakan sejarah bagaimana budaya berupaya dihancurkan.

Kepercayaan orang Mentawai yang bernama Arat Sabulungan diopresi secara besar-besaran. Orang-orang bertato dihukum dengan membersihkan lahan dari satu perkampungan ke perkampungan lain. Alat-alat tato tradisional dirampas paksa dan dibawa oleh rezim.

Sitasimattaoi saat menato seorang di Pekan Kebudayaan Nasional/Etnis/Dumaz Artadi

Jauh setelah kejadian kelam itu, saya berharap, kapan aturan buram tersebut bisa dihapuskan? Haruskah tradisi dikorbankan dan identitas sosial dibuat seragam? Jika tak dihapus, bagaimana nasib orang-orang Mentawai, apakah selamanya mereka jadi masyarakat yang terpinggirkan?

Malang benar. Ia harus mengorbankan banyak hal untuk dominasi kebijakan negara. Lalu siapa lagi yang menjaga tradisi yang sudah membudaya secara turun-temurun kalau bukan Sitasimattaoi dan kita semua?

"Hei, kau lihat, mataku miripkan dengan orang-orang yang ada di foto ini?" ujarnya sambil menunjuk satu persona dalam buku karangan Reimar. Ia tertawa.

"Aku adalah orang Mentawai asli. Bapak dan ibuku asli Mentawai. Orang-orang Mentawai memang matanya sipit dan kulitnya coklat sawo, seperti saya. Bang Joel itu sudah campuran. Bapaknya orang Mentawai"

Berbincang dengannya sungguh menyenangkan. Berkali-kali ia menawarkan, jika ingin tahu soal Mentawai, baik ihwal penato dan sikerei (tabib), saya bisa bertanya padanya. Lalu kami melanjutkan topik tentang tato tadi.

Afdal, seorang anggota Sitasimattaoi/Etnis/Dumaz Artadi

Ada klaim yang menyebut bahwa tato tertua di dunia adalah tato dari Mentawai. Saya bertanya pada Dedi. Ia membenarkan, tapi soal data, masih diperdebatkan.

Dalam penelitian Ady Rosa, memang disimpulkan kalau budaya tato Mentawai merupakan budaya tato tertua di dunia. Ady sendiri dijuluki sebagai Jenderal Tato Indonesia sebab ia seorang pakar tato.

Pada medio 1992-1993, Ady menyamperi pelbagai desa di Mentawai, sebut saja Desa Terekan Hilir, Bojakan, Simalegi, Simatalu, Pulikkoman, Matotonan, Lita, Sagulubek, Paipajet dan Taileleu di Pulau Siberut.

Sitasimattaoi saat menato seorang di Pekan Kebudayaan Nasional/Etnis/Dumaz Artadi

Dedi tak segan menyebut kalau seni tato Mentawai lebih dulu ada dari seni gambar Mesir kuno. Bahkan ia menyebut kalau motif-motif tato orang Mentawai mencapai ratusan.

"Peradaban seni soal tato di Mentawai itu paling tualah. Saya ikut dari kesimpulan yang ditulis Ady Rosa, Kawan. Berkisar 2500 sampai 1500 sebelum masehi."

Gagasan itu didukung dari alat-alat rajah dari Mentawai. Saya melihat langsung kayu-kayu yang dipakai Joel untuk menato. Gantian, Joel menjelaskan kalau alat rajahnya meliputi jarum, tulang dan duri jeruk Bali. Tintanya berasal dari daun khusus dan ramuan-ramuan yang dibuat oleh orang Mentawai.

"Nama alatnya itu patiti. Tato itu titi dalam bahasa Mentawai," tambah Joel.

Patiti dan buku motif tato yang dibawa Joel/Etnis/Billy Chermutto

Sebelum menato, orang-orang Mentawai tak boleh sembarangan berbuat sesuatu. Mereka punya ritual tersendiri. Ada unsur mistis di dalamnya. Nama ritualnya disebut ritual Keikei. Ada pantangan sebelum menato.

Mistisnya, orang-orang Mentawai bernyanyi saat jarum-jarum pilihannya ditusukkan ke permukaan kulit orang yang ditato. Syair itu berisi doa permintaan restu kepada roh leluhur, sesuai ajaran Arat Sabulungan.

Joel memamerkan buku motif tatonya/Etnis/Billy Chermutto

Saya bertanya, apakah Dedi tahu soal bahasa yang dilagukan orang-orang Mentawai saat menato? Dedi menjawab tidak tahu. Menurutnya, itu Bahasa Mentawai kuno.

"Judulnya saya tidak tahu."

Lalu apakah Joel juga tahu? Dedi menjawab tidak. Mantra-mantra itu diturunkan dari sejak dahulu kala. Sudah tak ada yang tahu artinya. "Bahasa Mentawai sekarang dan kuno itu beda, kawan. Kalau bahasa Mentawai sekarang, saya tahu."

Saya merasa cukup dan penuh dengan penjelasannya. Joel dan Dedi berharap, stigma masyarakat bisa berubah terhadap orang bertato. "Semoga kita bisa dapat pengakuan secara hukum serta tradisi yang kita bawa dan kenalkan ini, bisa menjadi warisan dunia yang diakui UNESCO," tandas Joel.

Almaliki

Senang bercerita.