Batik dan Pengaruhnya pada Perempuan Jawa

Pusaka Oct 05, 2019

Etnis.id - Pada masa lalu, membatik merupakan aktivitas yang gemar dilakukan para perempuan Jawa. Sebagaimana yang tertulis dalam Kawruh Ambathik. “Mênggah padamêlanipun tiyang èstri, saya tumrap ing nagari Surakarta tuwin Ngayogyakarta, agêng alit sami nyêrat sinjang bathik, kangge panggaotan, utawi namung pangangguran, dipun angge piyambak, prasasat botên wontên tiyang èstri ingkang botên sagêd nyêrat sinjang.

Artinya kurang lebih begini: “Termasuk pekerjaan perempuan. Utamanya di wilayah Solo dan Jogja, tua muda semua ikut membatik, untuk mendapatkan penghasilan atau karena menganggur, untuk dikenakan sendiri. Hampir-hampir tidak ada perempuan yang tidak bisa mengerjakannya.”

Dalam wawancara dengan Gema Isya Adam (27), pemuda yang menekuni batik tulis dengan jenama MaosBatik dari Solo ini menuturkan mengapa proses kreatif membatik didominasi oleh perempuan. Konon, laki-laki dulunya mendapatkan jatah atau bagian keluar rumah mencari hewan buruan hingga berbulan-bulan lamanya. Aktivitas laki-laki lebih mengutamakan kekuatan fisik.

Sedangkan para perempuan ketika itu menyibukkan diri di area rumah dan desa mereka dengan bertani, menenun dan membatik. Bahkan teknologi-teknologi yang dilahirkan pada masa itu berasal dari daya pikir perempuan.

Masa dulu, banyak pekerja seni (kreativitas) memang didominasi oleh perempuan. Salah satu perempuan Jawa yang memiliki pengaruh besar dalam penyebaran produk budaya batik adalah Nyi Banoewati. Ialah seorang penjaga museum pusaka dan pembuat seragam dari Kerajaan Majapahit pada abad ke-14.

Dikisahkan, Nyi Banoewati sedang dalam pelarian dari Kerajaan Majapahit. Dalam pelariannya, Nyi Banoewati bersembunyi di wilayah pesisir pantai utara Jawa, di daerah Juwana, di Desa Bakaran. Saat terasing, Nyi Banoewati mengajari masyarakat Bakaran membuat Batik.

Salah satu motif yang terkenal adalah motif Gandrung. Motif ini diciptakaan saat Nyi Banoewati gembiranya luar biasa sebab setelah sekian purnama, Joko Pakuwon, kekasihnya yang sudah lama terpisah, akhirnya menemukan dirinya. Atas perasaan itu, dengan tangkas Nyi Banoewati mencorat-coret kain mori yang berwarna putih dengan canting yang berisi malam. Motifnya berbentuk garis-garis yang saling silang dan bermakna filososif pertemuan antara dua insan yang diwakili oleh dua garis yang saling mencintai satu dengan lainnya.

Perempuan Jawa kuno saat membatik

Keterampilan membatik yang diajarkan Nyi Banoewati membuat masyarakat sekitar Desa Bakaran memiliki batik khas Pesisiran yang didominasi dengan warna hitam dan cokelat. Disesuaikan dengan bahan pewarna yang biasa ditemukan di daerah itu, misalnya kulit pohon tingi dan akar kudu untuk pewarnaan sawo matang.

Dengan beberapa motif yang masih dipengaruhi oleh gaya Tengahan (Majapahit) di antaranya Padas Gempal, Gringsing, Bregat Ireng, Sido Mukti, Sido Rukun, Namtikar, Limanan, Blebak Kopik, Merak Ngigel, Nogo Royo, Gandrung, Rawan,Truntum, Megel Ati, Liris, Blebak Duri, Kawung Tanjung, Kopi Pecah, Manggaran, Kedele Kecer, Puspo Baskora, ungker Cantel,  Blebak Lung dan beberapa motif Tengahan lainnya.

Berkenaan dengan spiritualitas, proses pembuatan batik tulis Bakaran bisa terbilang unik. Sebelum memulai membatik, dahulu para perajin melakukan ritual dulu. Dari berpuasa tiga hari, seminggu, atau 40 hari. Setelah berpuasa, para pembatik bertapa atau menyepi lagi dengan tujuan mendapatkan inspirasi atau ilham; mendapatkan gambaran atau bayangan motif batik yang akan dibuat.

Biasanya motif yang didapat tidaklah biasa. Kadang menggambarkan kondisi masyarakat dan terkandung pesan moral. Ada juga yang menunjukkan latar belakang pembatik itu sendiri. Jadi, setiap motif batik ada maksud dan tujuan yang diharapkan pembatik.

Salah satu produk budaya batik Bakaran yang masih eksis sampai sekarang, yang saya datangi beberapa waktu lalu, adalah Batik Tulis Bakaran Tjokro yang didirikan oleh Bukhari Wiryo Satmoko yang beralamat di jalan Mangkudipuro No 196 RT 2 RW 2, Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati.

Pria kelahiran 67 tahun silam ini sampai sekarang masih aktif menggerakkan roda perekonomian masyarakat Desa Bakaran melalui batik. Kemampuan batiknya diperoleh turun temurun dari ibundanya. Dengan berbekal semangat yang gigih untuk terus melestarikan budaya Jawa, beberapa penghargaan dari Pemerintah didapatkan seperti Upakarti.

Pelajaran dari membatik adalah perajin diajari ketekunan keuletan serta kesabaran yang kuat. Satu kondisi yang mungkin mulai hilang dari diri para generasi kekinian. Kini, jangan sampai generasi masa depan kita hanya mengenal batik sebatas kain dengan motif yang indah. Mereka wajib mempelajari setiap detail latar belakang mengapa motif itu tercipta. Tidak hanya sekedar warisan, namun salah satu pusaka abadi nan jaya dari Jawa.

Editor: Almaliki

Didik W. Kurniawan

Etnomusikolog