Badik: Senjata untuk Menikam, Mengobati, atau untuk Dipamer Belaka?

Pusaka Mar 16, 2020

Etnis.id - Badik itu senjata mematikan. Orang-orang di Bugis-Makassar, kerap membawanya dan memamerkannya. Tapi apakah hanya itu saja? Tidak. Badik melingkupi banyak aspek kehidupan orang Bugis-Makassar. Dalam hal kasat mata dan tak kasat mata.

Dalam satu kesempatan, saya pernah melihat seorang lelaki ditikam di depan konser band asal Bandung, Rosemary, kalau bukan Rosemary, Efek Rumah Kaca, di salah satu toko baju yang namanya kesohor di Makassar.

Lelaki yang memegang badik itu menyusup di kerumunan, semberi berlari, ia tarik gagang badik dari sarungnya. Badiknya berkarat dan agak panjang dari biasanya, kemudian ia tusukkan ke lelaki yang sudah lama ia keker dari jauh.

Orang-orang berhamburan sembari berteriak, lelaki yang ditusuknya selamat sambil memekikkan suara pilu . Ia lolos, setelah badik yang menghunjam switernya, tak sempat merobek kulitnya. Saya bengong melihat kejadian itu dan sampai sekarang, saya tak bisa lupa.

Lelaki yang dihunjam badik lari kalang kabut, melepaskan diri dari lelaki yang marah itu. Kelihatan, ayunan tangannya kuat dan sungguh cepat. Si penusuk terdiam, seperti orang bingung. Sepertinya, ia masih linglung karena dikuasai emosi yang penuh di kepalanya.

Dalam hati saya berkata, andai lelaki itu tak memakai switer, perutnya sudah dirobek-robek besi berkarat sebuah badik. Barangkali ususnya terburai dan bersimbah darah. Barangkali. Bisa juga, kejadian itu mampu mengantarnya ke rumah sakit atau ke dalam tanah.

Kedua, saya pernah punya badik semasa SMA. Gagang dan sarungnya dari bambu. Panjangnya dari ujung telunjuk sampai pergelangan tangan orang dewasa. Saya tidak tahu jenisnya apa. Kawan saya meminjamnya karena tertarik. Ia bilang, ingin memakainya berduel.

Saya memberinya. Ia tersenyum. Tak lupa, ia juga meminjam switer yang kubeli di pasar loak saat di Surabaya. Tak berselang lama, di sekolah, kawan saya bilang badik milikku hilang.

"Rassi (penuh bercak) darah switermu, weh. Ada di rumah."

Saya melihat switerku itu dengan tatapan kosong di rumahnya. Apa yang telah dilakukan kawanku sebenarnya? "Kau habis tikam orang? Weh, bagaimana itu orang yang kau tikam? Meninggal?"

"Bukan saya yang menikam. Adikku. Adikku ditangkap polisi. Korbannya selamat, tapi perutnya sudah robek. Tak lama setelah duel itu, adikku ditangkap polisi."

Dua momen itu membuat saya tidak akan pernah menyentuh senjata tajam saking traumanya. Saya takut, saat saya dikuasai emosi, saya gelap mata, lalu melibas semua orang-orang di sekitar saya tanpa pandang bulu orang itu baik atau jahat, keluarga atau bukan. Mengerikan sekali.

Waktu berputar dengan cepat. Saya menemui banyak orang sebagai tempat belajar. Satu waktu, saya berbincang dengan paman di beranda rumahnya, yang banyak mengoleksi pusaka. Orangnya tabah dan sabar. Salatnya tidak bolong. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya selalu penuh petuah dan sesekali candaan.

"Tidak usahmi pakai badik. Yang paling tajam itu lidah. Jadi jaga saja bicara kalau sama orang. Kalau lidah sudah dijaga, insyaallah celaka bisa dijauhkan dari dirimu. Tidak berkelahi lebih baik daripada berkelahi walau menang."

Saya terkesiap. Mengiyakan ucapannya. Paman saya, meski punya banyak koleksi pusaka, tak pernah petantang-petenteng di depan orang. Ia memakai pusaka itu sebagai mediasi untuk berobat. Selebihnya disimpan saja tanpa tahu apa gunanya.

Saya pernah melihatnya merendam sebuah keris dalam air lalu diminumkan kepada orang. Awalnya saya kira itu perbuatan yang menentang agama atau syirik. Tapi...

Bagaimana jika besinya itu memang punya zat yang bisa menyembuhkan seseorang? Ini yang perlu diteliti. Jangan ujug-ujug semua perbuatan yang aneh dianggap keluar dari Islam. "Ada seseorang yang memberitahu saya lewat mimpi."

Lewat mimpi itulah, dalam hari-hari tertentu, ia sering membersihkan pusakanya dengan air yang sudah dicampur ramuan-ramuan. Dulu saya menganggapnya sebagai orang aneh, tapi sekarang saya bertanya, ramuan itu membuat besi menjadi apa? Apakah membunuh kuman dalam besi atau menjaga besinya agak tak dilumat korosi?

Dalam ranah mistis begitu, kita barangkali sama-sama mampu menakar seperti apa doanya dan energi apa yang terkandung dalam mantra itu. Bagaimana bunyinya, ketukannya, dan lain-lain. Sains menjangkau hal tersebut.

Saya lalu bertemu seorang pengoleksi dan peneliti atau kalau mau dibilang pembelajar benda-benda pusaka serta budaya Bugis-Makassar, di Jakarta. Saya memanggilnya Kak Nor Sidin.

Saya takzim mendengar masukan-masukannya untuk mengembangkan ide dalam tulisanku. Tentu saja, yang benar-benar penting untuk saya sampaikan. Sebab berbicara budaya dan tradisi, sangat rentan membuat orang berselisih jika data tidak kokoh sandarannya.

"Harus dikembalikan fungsinya itu badik, Dek. Badik itu senjata."

Kalimatnya sederhana saja, namun membuat saya banyak berpikir dan ingin menyuguhkan diskursus, apakah memang badik itu tak boleh dijadikan mediator untuk menyembuhkan seseorang dari sakit yang dialami?

Ya, itu masuk akal. Bisa diteliti. Tapi bagaimana jika sebuah badik, dianggap punya magis yang bisa mendatangkan rezeki? Lalu badik itu disimpan dalam lemari atau laci kasir toko kelontong? Bisakah hal itu dijangkau sains?

Lebih aneh lagi, bergunakah badik jika hanya dijadikan alat untuk pamer, dijadikan pemicu untuk mengumbar bahwa seorang penggunanya pemberani? Pemberani kah seseorang jika badiknya hanya dijadikan hiasan di rumah?

Pertanyaan di atas berkecamuk di kepala saya. Sampai saya berpikir, sebaiknya pemegang badik itu harus digenggam oleh orang-orang yang cerdas dalam mengolah emosinya. Takutnya, pemegangnya hanya menjadikan badik sebagai besi biasa belaka. Alih-alih diteliti dengan baik, dijadikan alat untuk berjaga dan dipelajari sejarahnya, badik hanya dijadikan alat untuk pamer di media sosial.

Lebih dari itu, energi dalam badik bisa mengendalikan pemiliknya untuk menjadi penjahat dan pemarah. Kalau dalam ilmu mistisisme, badik dianggap punya khadam. Ada baik dan buruk. Berhati-hatilah.

Lalu sebenarnya, badik itu untuk siapa? Untuk menjaga diri, untuk media pengobatan, atau untuk dijadikan alat menakuti tapi pemegangnya loyonya minta ampun? Kesimpulannya, mari dipikir sendiri.

Almaliki

Senang bercerita.