Sebaran Apem untuk Kemaslahatan di Jatinom

Kultur Jul 20, 2019

Etnis.id - Meski zaman telah modern, masyarakat Indonesia belum bisa dipisahkan dari mitos-mitos. Akhirnya itu menjadi kepercayaan tersendiri atau ritus di dalam kehidupan sehari-hari.

Di Jawa tepatnya di Jatinom, Klaten, dikenal tradisi sebaran apem atau yaqowiyu. Ritus ini dipercaya sebagai ajaran yang membawa nilai-nilai keselamatan serta kedamaian.

Masyarakat Jatinom meyakini jika sebaran apem akan mendatangkan keselamatan. Dalam bahasa lain, bisa dibilang ngalap berkah.

Sebaran apem adalah tradisi hasil sinkretisme, perpaduan antara kepercayaan Jawa kuno, Hindu serta Islam. Pelaksaan ritus ini cukup meriah seperti pesta terbuka pada umumnya.

Jika datang ke sebaran apem, kita sendiri akan sulit memisahkan antara keduanya. Sebaran apem biasanya dilaksanakan setiap hari Jumat terakhir pada bulan Sapar dalam penanggalan Jawa.

Sejarah sebaran apem konon sudah ada sejak zaman Kyai Ageng Gribig, yaitu seorang ulama penyebar ajaran Islam yang akhirnya menetap dan menutup mata di Jatinom saat zaman kerajaan Mataram Islam.

Jika ditanya tentang mengapa harus kue apem? Tradisi ini lahir ketika kyai Ageng Gribig pergi ke Mekkah dan mendapatkan tiga apem dalam keadaan masih hangat.

Apem tersebut kemudian dibawanya pulang untuk diberikan kepada anak cucunya. Sesampainya di Jatinom, apem dari Mekkah tersebut masih berwujud hangat.

Sayangnya, tiga apem itu tidak cukup untuk dibagikan kepada anak dan cucunya. Akhirnya, Kyai Ageng melantunkan sabda “apem yaqowiyu” yang berarti Tuhan mohon kekuatan.

Mendengar hal itu, Nyai Ageng Gribig membuatkan apem baru lagi untuk Kyai Ageng. Akibat kejadian ini, masyarakat setempat mengenangnya dan mengikuti laku Kyai Ageng untuk membuat apem dan berdoa demi keselamatan.

Kesimpulannya, ritual ini dipercaya akan mendatangkan keberkahan untuk mereka yang hadir dan khususnya untuk mereka yang mendapatkan apem. Sebab ada doa dalam ritus itu.

Doa-doa itulah yang dipercaya akan membawa kesehatan, rezeki hingga jodoh kepada masyarakat.
Alasan yang kedua, proses ini akan mendatangkan sebuah keteraturan tertentu.

Sebaran apem banyak dinanti masyarakat Jatinom. Bahkan, ada orang-orang yang jauh datang khusus untuk melihat ritus ini dijalankan. Contohnya, banyak masyarakat Jatinom yang rela pulang dari merantau untuk melakukan upacara ini.

Apa pasal? Mayoritas dari mereka berharap bisa mendapatkan keberkahan yang dipercaya mampu meningkatkan kualitas hidup. Selain itu, acara ini juga bisa dianggap sebagai ajang silaturahmi sambil makan kue apem.

Bagaimana, ingin datang dan mencoba apemnya?

Editor: Almaliki