Kain Tenun Bayan dan Simbol Ketuhanan

Pusaka Feb 08, 2020

Etnis.id - Salah satu sentra tenun yang paling populer di Kabupaten Lombok Utara, ada di Desa Bayan. Di sana, terdapat enam jenis kain tenun yang dibedakan berdasarkan penggunanya, untuk laki-laki dan untuk perempuan.

Bagi lelaki, mereka memakai londong abang, sapuk dan rejasa. Sedang untuk perempuan ada poleng, lipak dan jong. Londong abang digunakan sebagai sarung, sapuk untuk ikat kepala dan rejasa sebagai penutup bahu, lengan, sampai tangan kaum bangsawan Bayan. Untuk golongan masyarakat biasa, rejasa sering dibebatkan di pinggang sebagai penguat sarung.

Bagi perempuan Bayan, mereka memakai poleng untuk kain bawahan, lipak sebagai kain penutup bagian dada (seperti kemben) dan jong sebagai penutup kepala. Jika jong dipakai untuk menutup sekapur sirih yang dihaturkan kepada tetua atau tokoh adat, maka jong disebut “usap”. Jika ada tetua adat meninggal dunia, biasanya jong dipakai untuk menutupi kepala mendiang.

Jong hanya bisa ditenun oleh keturunan penenun jong. Selain itu, para peminat jong harus menyiapkan 244 keping kepeng bolong (koin bolong), sebagai panas pati atau syarat untuk bisa mendapatkan jong.

Jika masyarakat Suku Sasak di daerah lain menganggap kain tenun sebagai pakaian perlengkapan saat mengikuti upacara adat saja. Maka di Bayan, kain tenun dianggap penting sekali. Masyarakat Bayan tidak harus menunggu hari tertentu untuk memakai londong abang, rejasa, sapuk, poleng, lipak dan jong. Sebab itulah, masyarakat Bayan terlihat eksotis di mata orang luar.

Ada pula kain tenun yang disakralkan oleh masyarakat setempat. Kain tenunnya dikerjakan secara tertutup atau tidak diekspos ke khalayak ramai. Karena dalam prosesnya, diselenggarakan ritual-ritual khusus.

Penenunya juga tidak asal-asalan, haruslah anak gadis yang belum baligh atau masih suci. Dan harus dari keturunan tuak lokak. Terakhir, benang yang akan digunakan untuk menenun tidak boleh menyentuh tanah.

Jenis kain tenun yang disakralkan itu di antaranya: umbak kombong, bongot dan kereng bebo. Kain-kain ini tidak diperjualbelikan sebab diperuntukkan sebagai perlengkapan ritual adat atau agama.

Bongot digunakan kiyai saat mengangkat Pengemban Adat Bayan. Kereng bebo, digunakan sebagai penghias langit-langit Makam Reak saat Gawe Alip hendak dilaksanakan. Kereng bebo juga boleh dipasang di langit-langit Masjid Kuno sewaktu Gawe Lohor. Umbak kombong sebagai menjadi pelengkap dalam upacara ngurisang atau upacara pemotongan rambut bayi di Bayan.

Makna simbolis kain tenun Bayan

Londong abang ada simbolnya. “Abang” berarti merah yang dimaknai sebagai simbol keberanian dan kebijaksanaan laki-laki Bayan. Sapuk hitam berati kewibawaan dan sangat identik dipakai oleh tokoh adat atau tuak lokak. Sapuk putih bermakna suci, pemakainya diidentikkan dengan golongan pemuka agama atau kiyai.

Pemasangan sapuk dengan ujungnya berbentuk segitiga yang dibiarkan menjulang ke atas, dimaknai sebagai simbol ketakwaan masyarakat terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika dipasang dengan pola salah satu ujungnya dibiarkan berdiri tegak seperti huruf “alif”, maka hal tersebut ditandai sebagai simbol tauhid atau ke-Esa-an Tuhan.

Mencermati realitas itu, terkesan berlebihan karena ritual adat yang seharusnya bersifat keduniaan dalam hal konteks ini, kain tenun dicampur dengan ritus keagamaan.

Akan tetapi, kecenderungan seperti itu yang berlaku di Bayan, yakni tatanan kehidupan sosial budaya, dibangun di atas fondasi pemahaman nilai-nilai keberislaman yang kokoh.

Memang, dalam beberapa literatur dijelaskan, penyebaran Islam di Lombok tidak hanya melalui jalan perdagangan. Penyebaran Islam di wilayah Indonesia bagian Tengah dan Timur, disertai dengan kedatangan langsung para ulama atau para wali dari tanah Jawa.

Untuk membuktikan itu, ada jejak otentik penyebaran Islam di Lombok, di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, dan di wilayah lereng Gunung Rinjani, seperti Desa Bayan dan Sembalun, Lombok Timur.

Di sana, ada situs-situs bernuansa Islam yakni masjid, makam atau petilasan dan ritual-ritual keagaamaan sunnah lainnya. Kiyai atau tokoh agama di Bayan juga, biasanya menghubungkan beberapa kosa kata yang berasal dari Arab dengan istilah yang berlaku di lingkungannya.

Semisal kata “bayan” yang merupakan kosa kata bahasa Arab yang berarti “penjelasan”. Modin yang sebetulnya berasal dari kata muazin (pengumandang azan), ketib yang berasal dari kata khatib atau pembaca kutbah.

Ada lagi, cerita tentang Pantai Carik di Anyar yang diyakini sebagai tempat berlabuhnya ulama, pembawa agama Islam ke Bayan untuk pertama kalinya. Hingga lahirlah istilah Wali Rauh. “Rauh” artinya tiba.

Dan tentu saja yang paling populer dari semua itu adalah Masjid Kuno Bayan. Pusat ibadah Agama Islam yang pertama dibangun oleh ulama atau wali, setelah memutuskan menetap di Bayan. Di Masjid Kuno, mereka masih tetap menyelenggarakan upacara-upacara Islam sesuai dengan pemahaman dari ulama-ulama pendahulu mereka.

Seperti acara Ngurisang (gunting rambut bayi), Nyunatan (khitan), Metikah (prosesi akad nikah) maupun acara-acara sunah yang lainnya, yang umum dilakukan oleh masyarakat muslim di Lombok. Di situlah peran kain tenun, sebagai pendukung acara, mendapat bagian dengan porsi-porsi yang telah ditetapkan.

Editor: Almaliki

Lamuh Syamsuar

Penulis lepas kelahiran Lombok Tengah yang senang menulis puisi.