Belum lama ini, unggahan video berdurasi 49 detik di akun Twitter Xinhua News, @XHNews, dibanjiri komentar warganet lantaran menyebut batik berasal dari Cina.

"Batik adalah kerajinan tradisional yang umum di kalangan kelompok etnis di Cina. Menggunakan lilin leleh dan alat seperti spatula, orang mewarnai kain dan memanaskannya untuk menghilangkan lilin. Lihatlah bagaimana kerajinan kuno berkembang di zaman modern. #AmazingChina."

Kendati Xinhua sudah melakukan klarifikasi, namun pernyataan itu masih menjadi tema yang diperbincangkan di banyak kesempatan. Pasalnya, hubungan masyarakat Indonesia dengan batik, memang tidak pernah ‘tawar’.

Di bangku sekolah, setidaknya satu hari dalam sepekan, siswa diwajibkan untuk mengenakan seragam bermotif batik, guna menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Indonesia sejak dini.

Meskipun mengalami pasang-surut, nyatanya, batik sudah mengawal perjalanan bangsa Indonesia sejak masa kejayaan Mataram hingga periode saat ini, di saat masyarakat tidak lagi memandang batik hanya sebatas atribut.

Sebagaimana sifat kebudayaan yang dinamis, batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, tak henti-hentinya mengikuti arus zaman. Pasalnya, ia sanggup memecah kekakuan lewat kemunculannya di berbagai festival kebudayaan, panggung pertunjukan, hingga titian peragaan busana.

Sebab itulah citra batik yang semula dianggap kuno dan usang, menjadi terasa relevan untuk disebut sebagai karya yang abadi dan lintas zaman.

Ketika saya menyambangi sentra batik di Pekalongan, Nessha, yang awalnya menggeluti seni grafis dan akhirnya beralih ke seni kriya tekstil—berbagi kisah tentang perjalanannya menapaki industri batik.

“Saya tertarik setelah mengikuti workshop batik. Sejak itu, muncul keinginan untuk mendalami teknik dan prosesnya.”, ujar alumnus Institut Kesenian Jakarta yang kini bekerja di perusahaan seni kreatif (kain batik) di Pekalongan.

Tak banyak yang meminati batik, kendati warisan budaya yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi pada 2 Oktober 2009 itu, begitu sarat akan makna dan filosofi.

“Dari ratusan mahasiswa, di tahun 2007, hanya tiga orang yang memilih jurusan Kriya Tekstil.”, Nessha memaparkan ironi tentang minat masyarakat terhadap batik, seiring suara hati yang semakin nyaring mengarahkannya ke sektor tekstil.

Meski sempat dirintangi berbagai pertanyaan seputar tujuan akhir studi, Nessha justru tak mengalami kesulitan menjawabnya. Sebab, ia sudah siap menyesap pahit-manis industri batik, sembari bertekad memperkenalkan dan melestarikan batik lewat karya-karya dan pameran.

Batik Sebagai Simbol Perlawanan

Dalam kesempatan lain, film berjudul “Guru Bangsa: Tjokroaminoto” membuat saya merasa satu langkah lebih dekat pada pemahaman, serta aspek spiritual yang terkandung di dalam batik.

“Batik ialah Basmalah titik. Artinya, kita diminta untuk memulai sesuatu dengan menyandarkan segalanya kepada Sang Pencipta.”, Soeharsikin menyimak nasihat Ibunya sembari mencemaskan sang suami, Tjokroaminoto, yang tak kunjung kembali dari tetirahnya dalam misi memperjuangkan persamaan hak.

Sepenggal dialog itu kemudian mengesiap ke dalam perenungan, yang tak lama berselang—adegan digantikan oleh babak yang menunjukkan tekad Tjokroaminoto untuk berhijrah: membawa golongan pribumi pada secercah harapan, khususnya kaum proletar yang terdiri dari nelayan dan petani.

Haji Oemar Said Tjokroaminoto, sang Guru Bangsa, sejatinya memang memiliki semangat juang yang tinggi. Bukan hanya pada pergerakan organisasi Serikat Islam (perkembangan dari Serikat Dagang Islam) saja, melainkan pada keberanian mengajak rakyat jelata—dari kaum proletar—untuk ramai-ramai mengenakan batik sebagai penanda identitas sekaligus menjadikannya simbol perlawanan.

Baginya, hijrah juga berarti menggiring setiap orang pada persamaan hak, termasuk penggunaan batik yang semestinya tidak terbatas hanya untuk melanggengkan privilese kaum priyayi.

Di tengah keresahan golongan Eropa atas sepak terjang Serikat Islam, spirit egaliter yang ia gelorakan, salah satunya dilatari oleh filosofi yang terkandung di dalam batik itu sendiri, yakni basmalah titik: manusia hanyalah partikel kecil di antara luasnya anugerah Sang Pencipta.

Jiwa Jawa dalam Filosofi Canthing

Merujuk pada Babad Sengkala yang ditulis pada tahun 1633, secara etimologis, istilah batik diserap dari bahasa Jawa, yakni ambhatik yang berasal dari padanan dua suku kata. Ambha yang berarti lebar, dan nitik yang menjelaskan ihwal teknik pembuatan yang terdiri dari rangkaian titik-titik.

Sejalan dengan pendapat Kawindrosusanto dalam "Canting: Seni dan Teknologi Dalam Proses Batik", bahwa batik juga berakar dari istilah anyerat, yakni menulis atau menggambar serba rumit dan kecil-kecil, atau melukis pada kain tenun berwarna putih (mori) menggunakan malam (lilin), serta alat canthing yang dibuat oleh tangan.

Thomas Stamford Raffles dalam History of Java, membagi batik berdasarkan warna dasarnya: lalur puti, lalur ireng dan lalur bang. Sedangkan canthing, corong kecil sepanjang dua inci yang berisi cairan lilin panas untuk melaraki kain, terdiri tiga bagian utama, yaitu nyamplung, cucuk dan gagang.

Nyamplung adalah tempat menampung cairan malam yang terbuat dari tembaga. Cucuk adalah lubang untuk menitikkan malam, sedangkan gagang ialah tangkai canthing yang umumnya terbuat dari material bambu atau kayu.

Secara filosofis, bagian-bagian utama canthing diadaptasi dari gagasan Jiwa Jawa. Gagang menggambarkan landasan yang kuat dalam bentuk keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, nyamplung mengisyaratkan ketegaran dan keberanian dalam menghadapi semua persoalan hidup, sedangkan cucuk yang menghadap ke bawah dan berukuran sangat kecil, melambangkan sifat ambheg utomo andhap asor yang merepresentasikan keutamaan ilmu dan kerendahan hati. Dua keterampilan yang selayaknya dimiliki oleh para pengrajin batik, guna memunculkan kekuatan dan keindahan batik sebagai salah satu kearifan lokal Indonesia.

Hal itu dibenarkan oleh Nessha. Baginya, makna yang tersirat pada canthing dapat dijadikan landasan berpikir bagi manusia dalam mengenal Tuhannya. Secara spiritual, canthing diibaratkan bentuk penyerahan diri manusia kepada Tuhan yang Maha Esa, agar senantiasa berlapang dada dalam menerima apapun yang dianugerahkan, baik berupa kesulitan maupun kemudahan.

Lebih luas lagi, ia memaparkan bahwa keunikan batik khas Nusantara, terletak pada penggunaan perkakas canthing. Meskipun kita tidak dapat menutup mata, bahwa ada perkembangan pola dan ragam hias motif batik di Indonesia yang dipengaruhi budaya asing, seperti motif Hokokai yang terinspirasi bunga Sakura dari Jepang, atau motif Buketan dari negeri kincir angin—yang dapat ditelusuri melalui sejarah pendudukan Indonesia oleh kedua bangsa tersebut.

Pertemuan Dua Budaya Pada Motif Batik Lasem

Kita kerap luput memandang batik sebagai hasil akulturasi budaya. Sebab itu, klaim pihak asing atas batik, terasa begitu mencederai. Padahal, jika ditinjau lebih jauh, batik adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang bersifat universal.

Bangsa Mesir Kuno diketahui telah menoreh kain dengan teknik pewarnaan malam sejak abad ke-4 Masehi. G.P Rouffaer, penjelajah dan pustakawan asal Belanda menyebut bahwa batik diperkenalkan oleh orang-orang India dan Srilanka pada abad ke-6 hingga ke-7 Masehi. Teknik serupa juga ditemukan di daratan Afrika, Asia, bahkan pada keseharian bangsa Persia yang menetap di India Selatan.

Di wilayah Nusantara, batik Lasem yang berada di Kabupaten Rembang, mewakili ragam hias motif batik hasil pertemuan dua budaya: Jawa dan Tionghoa. Tengok saja teknik perintangan warna pada batik Lasem yang menampilkan warna-warna mencolok, seperti pada motif naga dan burung hong yang diyakini sebagai simbol keberuntungan etnis Tionghoa.

Sebuah sumber mencatat bahwa penyerapan ortografi asing pada ragam hias motif batik Lasem, tidak terlepas dari peran Laksamana Ceng Ho yang berlabuh di pesisir Pantai Utara, kemudian berinteraksi dengan bangsa pribumi.

Sejak itu, pengaruh budaya Tionghoa berkelindan dengan adat-istiadat masyarakat Lasem dalam rupa dan warna batik khas pesisiran (Pantai Utara). Orang-orang Jawa dan etnis Tionghoa hidup berdampingan layaknya saudara setanah-air, tanpa memperdebatkan latar belakang budaya.

Kendati begitu, tetap saja, cara mengidentifikasi batik ialah dengan menyebutkan lokasi pembuatannya—untuk menjelaskan makna yang tersirat di dalam motif, atau mempermudah penelusuran asal usul batik sebagai bagian dari ekspresi budaya lokal suatu daerah.