Etnis.id - Bagi masyarakat Papua, menu wajib mereka setiap hari adalah mengunyah buah pinang.  Ini adalah satu kebiasaan dan tradisi suku Papua yang harus dilestarikan. Tiada batasan usia maupun strata sosial untuk membatasi masyarakat mengunyah pinang di Papua.

Mengunyah pinang memiliki makna yang sama dengan menyirih. Buah pinang yang dikonsumsi oleh masyarakat Papua dikombinasikan dengan daun sirih dan kapur. Rahel Violin & Shrimarti Rukmini (2017) dalam penelitiannya tentang tradisi menyirih masyarakat Papua​, menyebutkan bahwa masyarakat Papua menghabiskan lebih dari empat biji buah pinang sehari dalam dua tempo waktu (pagi & sore atau siang & malam); bahkan ada yang sepuluh kali dalam sehari (yang berarti menguyah pinang setiap 160 menit).

Masyarakat Papua mempercayai bahwa mengunyah pinang adalah cara merawat gigi, menyembuhkan luka-luka kecil di sela-sela gigi dan menghilangkan bau mulut yang memabukkan sesuai dengan yang diajarkan oleh nenek moyang.

Secara medis, buah pinang memang mengandung senyawa arecadine, choline, guvacine, guvacoline, dan tannin. Di antara senyawa-senyawa tersebut, tannin merupakan kelompok ester glukosa yang menarik beberapa unsur pirogalol. Sifat astringent dan hemostatik di dalam zat tannin tersebut memiliki fungsi memperkuat gusi.

Selain menyehatkan gigi, mengunyah pinang juga dipercaya memiliki banyak manfaat lainnya. Di antaranya adalah membuat tubuh terasa segar, menghilangkan rasa kantuk dan (yang paling penting) dapat menghilangkan stres.

Rindengan Barlina (2007) dalam penelitiannya tentang peluang buah pinang sebagai bahan pangan​, pernah mewawancarai salah satu penikmat pinang di wilayah Papua.

Dari pendapat salah satu masyarakat Papua yang mengunyah buah pinang setiap hari, penikmat pinang tersebut lebih memilih tidak makan, daripada tidak mengunyah pinang. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan pinang bagi masyarakat Papua telah mengalahkan eksistensi nasi dan bahan makanan pokok yang lain.

Jawaban penikmat pinang yang lain memberikan jawaban yang berbeda, namun memiliki esensi makna yang sama persis. Penikmat yang lain mengatakan bahwa sehari saja tidak mengunyah pinang, membuat seluruh anggota tubuhnya lemas dan tidak bersemangat melakukan aktifitas seperti biasanya.

Esensi dari dua jawaban tersebut adalah posisi buah pinang sebagai sumber energi masyarakat Papua. Mengunyah pinang juga dapat menghilangkan rasa kantuk. Perpaduan antara buah pinang, daun sirih dan kapur menyebabkan bibir berwarna merah dan memunculkan sensasi ingin lagi.

Candu inilah yang membuat kebanyakan masyarakat Papua mengonsumsinya agar tidak mengantuk ketika bekerja. Khasiat yang tidak kalah penting dengan khasiat-khasiat sebelumnya adalah buah pinang dipercaya oleh masyarakat Papua dapat menjaga diri dari stres.

Hal ini pernah dibuktikan oleh Subarnas (2005) dalam karyanya yang berjudul Antidepresi Warisan Nenek Moyang. Subarnas menyatakan bahwa biji pinang memiliki kandungan ekstrak etanol yang mempunyai aktivitas antidepresi alias dapat menolak stres. Zat itu bekerja menghambat enzim monoamin oksidase atau menekan hormon yang dapat memicu stres.

Buah pinang sebagai simbol persaudaraan dan kehormatan

Papua memiliki julukan “Negeri Pinang”, sebab buah pinang merefleksikan identitas diri masyarakat Papua. Setiap keluarga di Papua selalu menyiapkan hidangan buah pinang (untuk menyirih) di dalam rumah.

Keluarga yang tidak menyiapkan buah pinang (terlebih ketika upacara
adat), maka akan dicap sebagai keluarga yang tidak tahu adat Papua. Di antara adat-adat Papua yang menggunakan buah pinang adalah acara kelahiran, pernikahan, dan kematian.

Oleh sebab itu Abdullah (2006) dalam bukunya yang berjudul Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan mengatakan bahwa kebudayaan sangat diperlukan oleh masyarakat sebagai barang, materi atau simbol yang berguna untuk identifikasi diri atau kelompok.

Bagi masyarakat Papua, buah pinang adalah simbol persaudaraan. Tradisi masyarakat Papua adalah selalu menyediakan buah pinang di dalam rumah untuk tamu, baik orang Papua asli atau orang luar Papua (perantauan atau wisatawan).

Kebersediaan tamu luar Papua untuk mengunyah pinang bersama-sama dianggap oleh masyarakat Papua sebagai wujud kebersediaan tamu tersebut untuk menjadi bagian dari mereka (saudara). Selain itu, buah pinang juga menjadi pembuka interaksi sosial.

Sirih, kapur dan buah pinang adalah suguhan utama dalam suatu acara di Papua. Ketika beberapa tamu menyirih bersama, hal itu dapat meningkatkan rasa keakraban, sehingga dapat menimbulkan rasa senang dan nyaman. Selanjutnya, permulaan percakapan akan dimulai dengan tanpa rasa canggung sebab pertolongan dari buah pinang.

Buah pinang juga merepresentasikan simbol kehormatan. Dalam jamuan acara tertentu, jumlah buah pinang yang banyak dalam hidangan dapat menaikkan nilai prestise pemilik acara. Begitu pun sebaliknya. Masyarakat Papua memandang acara perkawinan yang paling mewah adalah acara perkawinan yang menyajikan hidangan buah pinang paling banyak.

Oleh sebab itu, buah pinang dalam mas kawin bagi masyarakat Papua melambangkan harga diri. Akhirnya, ternyata buah pinang bukan sekadar buah bagi masyarakat Papua. Betapa dalam makna filosofis dan manfaat buah pinang.

Editor: Almaliki